Kang Aden Edcoustic meninggal, tapi karyanya tetap hidup.

Kang Aden Edcoustic Meninggal

Pagi ini, ada yang beda. Saya mendapat kabar salah satu munsyid yang saya kenal dari SMP lewat lagu-lagunya telah meninggal semalam. Kang Aden Edcoustic meninggal setelah berbulan-bulan melawan penyakitnya. Ada yang bertanya Kang Aden Edcoustic meninggal karena apa? kabar yang saya dapat karena penyakit Maag akutnya. Innalillah…

Kang Aden bersama Edcousticnya telah ikut mewarnai perjalanan hidup saya secara tidak langsung. Walau hanya sekali bertemu saat beliau konser dahulu. Masih inget dulu ketika SMP beli kasetnya yang saya terkagum melihat covernya yang moderat banget; waktu lagu Kamisamanya jadi lagu pembuka untuk program saya saat siaran di radio remaja Islam Depok dulu; dan lagu-lagunya dari dulu yang tersimpan dalam mp3 dan handphone telah menemani dalam berbagai perjalanan.

Lewat karyanya, ia mengubah cara pandang saya, membuat saya lebih bersabar dalam menghadapi masalah, dan memberikan inspirasi dalam berkarya. Selama 7 tahun ini yang saya kenal ia adalah munsyid hebat dengan kalimat-kalimat penuh makna. Saya tidak tahu latar belakang beliau seperti apa, hingga memang benar bahwa kematian bisa membuka kisah-kisah seseorang yang selama ini tidak kita ketahui. Dan, hari ini saya baru tahu bahwa orang yang sudah 7 tahun saya kenal lewat karyanya memiliki sejarah yang tidak saya duga; tentang keberanian memilih masa depan. Inilah tulisan Kang Aden yang patut dibaca. Semoga bisa kita ambil keberaniannya.

kang aden 2

Kang Aden Edcoustic meninggal, tapi karyanya tetap hidup.

______
::KELUARLAH DARI ZONA AMAN, JIKA INGIN CIPTAKAN MASA DEPAN::

Ada satu hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Hari dimana kompas hidupku berubah. Hari itu menciptakan masa depanku seperti saat ini.

Awalnya memang sepele, gara-gara ketinggalan kereta saat akan bekerja di Timezone. Siang itu aku rasa Allah sudah mentakdirkan aku tertinggal kereta. Sebetulnya bisa saja aku cari alternatif lain, naik angkot misalnya. Meskipun harus 3-4 kali naik turun angkot. Tapi aku putuskan hari itu tidak masuk kerja. Ini kesempatanku daftar kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati (Sekarang UIN), Bandung.

Maka aku menelpon pihak Timezone, memberitahukan kalo hari itu aku tidak bisa masuk kerja karena tertinggal kereta. Alasan yang ditolak pihak manajemen, dan memasukkan absenku sebagai langkah mangkir kerja. Tidak apa, toh ini hanya sekali saja. Demi suatu perubahan bagi hidupku kelak.

Datanglah aku ke kampus UIN di cibiru. Sudah beberapa bulan ini aku berniat untuk berkuliah, tapi selalu saja ragu. Padahal aku sudah punya tabungan untuk awal masuk kuliah, dari uang gaji Timezone yang tak seberapa. Dan baru kali itu aku beranikan diri mendaftar.

Kekhawatiranku beralasan. Jika aku kuliah nanti, pasti harus melepas pekerjaanku di Timezone. Itu artinya aku akan kehilangan sumber pendapatan. Darimana membiayai semuanya jika tak bekerja? Timezone adalah zona aman untuk bisa hidup dengan pendapatan tetap tiap bulannya.

Disisi lain aku ingin ada perubahan hidup. Berkuliah tidak hanya mengejar gelar sarjana saja. Yang penting adalah ilmu dan lingkungan akademik, dari lingkungan itu aku bisa masuk pada jaringan orang-orang sukses. Itu modal penting berkuliah. Ambil dan praktikan ilmunya, kemudian kuatkan jaringan kita.

Aku berkaca pada diri sendiri, apa mau seumur hidup menjadi pelayan toko? Membersihkan mesin tiap pagi, lalu mengusir orang yang meroko atau makan diarea permainan. Bagaimana dengan mimpi-mimpimu yang sudah dirancang?

Maka hari itu aku beranikan diri untuk keluar dari zona aman. Aku ingin menciptakan masa depanku sendiri. Aku mendaftar, lalu beberapa minggu kemudian ikut ujian masuk. Dan lulus.

Melihat kertas kelulusanku, mama duduk terdiam. Ia tak tahu harus membiayai kuliahku dari mana. Aku lalu berkata,

“Mama jangan risau. Biar aku sendiri yang mencari uang untuk biaya kuliah. Aku hanya minta doanya saja, semoga bisa lancar dan menjadi sarjana”

Disaat yang sama aku resmi keluar dari Timezone, dan belum punya rencana apa-apa untuk penggantinya. Yang jelas harus mencari kerja paruh waktu, agar aku bisa menutupi biaya kuliahku selama empat tahun kedepan.

Dalam hitungan tiga bulan uang tabunganku ludes oleh semua biaya kuliah. Sungkan rasanya untuk meminta uang pada mama, meski ia selalu menyisihkan 3-5 ribu untuk ongkos kuliahku setiap hari. Pengorbanannya terlampau besar untukku. Maka aku putar otak untuk bisa membayar uang semesteran.

Jurus ilmu kepepet memang benar-benar ada. Disaat kita terdesak oleh kebutuhan maka otak kita bekerja dengan tingkat dewa. Akhirnya aku menjual jasa pada tetangga-tetanggaku sebagai guru privat sekolah atau mengaji. Dan dengan posisiku sebagai mahasiswa itu sangat mudah. Mereka percaya, karena aku bertitel mahasiswa.

Aku hidup dikompleks perumahan. Karakter masyarakat kompleks adalah punya tingkat kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan anak-anaknya. Jadi berbisnis les privat sangat dibutuhkan orang-orang kompleks. Mereka tak segan-segan mengeluarkan kocek besar agar anaknya bisa les. Dengan gelar anaknya di-les-kan pun itu sebuah prestise buat ibu-ibu, maka aku lumayan laku dari mulut kemulut, menitipkan anaknya belajar.

Selama empat tahun jadi mahasiswa aku bekerja paruh waktu sebagai guru les privat. Dan itu cukup efektif untuk membiayai kuliahku. Ternyata keluar dari Timezone, apa yang aku khawatirkan sangat mengada-ada. Toh buktinya aku masih bisa kuliah dengan lancar. Dan berhasil lulus sebagai sarjana kurang dari lima tahun.

Dari bangku kuliah itulah aku menemukan banyak teman yang sampai saat ini sangat berjasa menciptakan masa depan yang sudah aku rancang. Apa yang aku impikan dahulu kini satu persatu terwujud. Aku sangat bersyukur.

Seandainya hari itu aku tetap bekerja menaiki 3-4 angkot, mungkin aku tidak akan bisa kuliah. Ceritanya pasti tidak akan seperti sekarang. Kalau saja hari itu aku tidak mendaftar, mungkin tak ada kesempatan membuat Edcoustic, menciptakan lagu Ketika Cinta Bertasbih. Tak ada Muhasabah Cinta, tak ada album-album Edcoustic, tak ada semuanya.

Mungkin aku sekarang masih di Timezone, membersihkan mesin dipagi hari, melayani pelanggan yang marah-marah karena koinnya kurang. Melayani teman-temanku sekarang yang mungkin takkan ku kenal, bermain mobil Daytona atau membersihkan kencing anaknya di mainan kuda-kudaan.

Hiduplah seperti yang kita impikan, jangan hidup dalam kepura-puraan dan penuh tekanan. Biarkan kita yang menciptakan masa depan dunia. Untuk bisa seperti itu, kita harus berani keluar dari zona aman..

Sumber: http://adenlife.com/2012/07/22/keluarlah-dari-zona-aman-jika-ingin-ciptakan-masa-depan/

“Bagiku hidup adalah berkarya. Sebab petualangan perlu dicetak menjadi karya. Meski itu sedang menangis atau tertawa. Semua menjadi sebuah karya. Sesuatu yang bisa dimanfaatkan olehku dan oleh orang lain. Selagi Tuhan masih memberiku waktu, berarti selama itu pula aku akan terus berkarya. Dan jika aku mati nanti, biarkan karya-karya itu menjadi warisan berharga generasi selanjutnya.” –(Aden Edcoustic)

Kang Aden Edcoustic memang telah meninggal, tapi karyanya akan terus hidup.

Allahummaghfirlahuu warhamhuu wa ‘aafihii wa’fu ‘anhu. Selamat jalan Kang Aden.

http://pekerjakreatif.blogspot.com/2013/12/kang-aden-edcoustic-meninggal.html

Advertisements
This entry was posted in kematian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s