Buatku rasa kerdil…

Bisa Jadi Ia Lebih Baik

 Selesai membahas acara peresmian masjid yang kami tempati, tepatnya pukul 21.00, ada seorang gadis duduk di depan masjid. Berdasarkan pengakuannya, ia diusir oleh orang tuanya karena diketahui bahwa dia sudah kehilangan mahkota berharganya, keperawanannya direnggut lelaki bejat ketika bekerja di sebuah kota. Aku hanya bisa mengelus dada. Betapa malangnya. Ia terlunta-lunta tanpa tahu arah tujuannya hendak ke mana. Hingga akhirnya ia duduk-duduk di depan masjid yang kami tempati. Berharap agar ada orang yang iba kepadanya dan mau memberikan tempat singgah barang semalam saja. Namun semuanya langsung pulang kecuali seorang bapak yang nantinya aku ajak berdiskusi.

Sembari melihat gadis malang itu, aku bertanya, “Pak, bagaimana itu pak?” maksud pertanyaanku adalah menanyakan malam itu di mana nanti gadis itu akan berteduh dan bermalam. Di dalam masjid tidak mungkin karena kami lelaki dan dia perempuan. Semua sudah kembali ke rumah masing-masing tanpa mau memperdulikannya.

Namun pertanyaanku tadi disalah fahami, sehingga dijawab oleh bapak tadi, “Mas, kita jangan merasa bahwa kita masuk jannah dan dia tidak. Bisa jadi sekarang kita shalat dan taat, dan dekat dengan Allah sedangkan dia sedang diuji dengan maksiat yang dia lakukan namun ia masuk jannah dan kita tidak !”

Aku tidak membantah jawabannya, sekalipun bukan itu maksud pertanyaanku. Namun aku tertarik dengan jawabannya. Kata-kata yang luar biasa bila kita mau sejenak merenunginya, dan menyadari bahwa kita belum ‘selamat’ seutuhnya. Bila demikian, maka kita jangan berbangga diri dan merasa lebih baik daripada orang lain, siapapun dia dan apapun status sosialnya. Sekalipun menurut mata manusia kita, ia banyak maksiatnya.

Apa yang disebutkan dalam salah satu sabda Nabi membenarkan jawaban bapak tadi. Sabda beliau, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh salah satu di antara kalian ada orang yang beramal dengan amalan penduduk jannah sehingga tidak ada jarak antara dia dengannya kecuali hanya sehasta, namun al-Kitab telah mencatatnya sebagai penduduk neraka sehingga ia melakukan amalan penduduk neraka (di penghujung hidupnya) lalu ia masuk neraka. Dan sungguh salah satu di antara kalian ada orang yang beramal dengan amalan penduduk neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dengannya kecuali hanya sehasta, namun al-Kitab telah mencatatnya sebagai penduduk jannah sehingga ia melakukan amalan penduduk jannah (di penghujung hidupnya) lalu ia masuk jannah.” (HR. Bukhari-Muslim).

Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari hadits ini. Setidaknya, hadits ini mengingatkan bahwa siapapun kita, belum ada jaminan masuk jannah Allah Ta’ala, dan sebejat apapun kita bukan berarti itu pertanda kita sudah dicap sebagai orang yang paling sengsara dengan memasuki neraka-Nya.  Tidak. Semuanya tidak ada jaminan. Orang yang sekarang taat bisa jadi mengakhiri hidupnya dengan bermaksiat sehingga ia bersua Allah dengan mendapat murka-Nya. Sebaliknya, ada orang yang terbiasa bermaksiat dan berlumur dosa namun pada akhirnya ia bertaobat dan bersua Allah dalam keadaan husnul khatimah. Sebuah kaedah agung pernah diberikan oleh Rasululloh, “Innamal A’malu bil Khawatim, hanyasanya amalan itu sesuai dengan amalan terakhirnya.” (HR. Bukhari). Dan kita tidak tahu. Sama sekali tidak tahu bagaimana ending perjalanan hidup kita. Kalau demikian adanya, pantaskah kita mendakwa bahwa kita lebih baik daripada orang yang menurut pandangan kita jauh dari Allah Ta’ala ? tidak sepantasnya.

Karena, bisa jadi orang yang sekarang kita remehkan, tidak kita pedulikan, atau bahkan kita kucilkan lantaran banyak kemaksiatan yang ia lakukan, kelak mendahului kita ke jannah Allah Ta’ala. Mereka mungkin tidak memiliki prestise yang patut dibanggakan di mata manusia, namun ternyata ia bisa mengakhiri hidupnya dengan kebaikan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ ». فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Anas berkata, Rasululloh pernah bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuatnya beramal?” Ada shahabat yang bertanya, “Bagaimana cara Allah membuatnya beramal wahai Rasululloh?” beliau menjawab, “Allah memberikan taufik kepadanya untuk beramal shalih sebelum kematiannya.” (HR. Tirmidzi dan berkata, “Ini hadits hasan shahih.”).

Lihatlah shahabat Nabi, Ushairim Radhiyallahu ‘Anhu. Sepanjang hayatnya, ia belum pernah bersujud kepada Allah, namun ketika sudah berikrar masuk islam, ia berjihad dan syahid. Sehingga Rasululloh bersabda, “’Amila qalilan wa ujira katsiran, ia beramal sedikit tapi berpahala banyak.” Lihat pula kisah heroik para tukang sihir Fir’aun yang langsung beriman kepada Allah setelah melihat mu’jizat Nabi Musa. Hingga fir’aun menyiksa mereka dengan kaki dan tangan dipotong secara terbalik dan mereka disalib di pelepah korma. Namun itu semua tidak membuat iman mereka goyah. Mereka siap dengan konsekswensi iman yang baru sejenak mereka ikrarkan, dan jawaban indah mereka diabadikan Allah dalam firman-Nya, “Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.  Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)” (Thaha : 72-73). Mereka berhasil mengakhiri hidupnya dengan senyum menghadap Allah Ta’ala, padahal sebelumnya mereka adalah orang-orang kafir, namun Allah lebih mencintai mereka dan memberikan taufik kepada mereka di akhir hayatnya. Subhanallah. Indah.

Alasan yang lain, karena kadangkala kemaksiatan seorang hamba bisa membuat hatinya meronta dan menangis di hadapan Allah di kegelapan malam sehingga ia berubah menjadi pribadi yang shalih, sedangkan ketaatan seorang hamba bisa jadi malah membuat hatinya ternodai dengan ujub, merasa banyak beramal yang itu justru melenyapkan pahala amal-amal kebajikannya.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdurrahman dari Abu Hazim berkata, “Sesungguhnya seorang hamba bisa saja melakukan kebajikan yang dia senangi, namun ternyata Allah menjadikannya sebagai keburukan yang paling berbahaya bagi dirinya. Adakalanya seorang hamba melakukan keburukan yang ia benci, namun ternyata Allah menjadikan kebaikan paling bermanfaat yang tidak ada bandingannya bagi dirinya.  Sebabnya, ketika seorang hamba melakukan kebajikan itu, ia bersikap takabbur, menganggap dirinya memiliki keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Bisa jadi dengan sebab itu Allah menggugurkan kebajikannya itu bersamaan dengan banyaknya kebajikan lainnya. Sementara ketika si hamba melakukan kejahatan yang dibencinya itu, bisa jadi Allah menumbuhkan perasaan takut dalam dirinya, kemudian ia menghadap Allah dalam keadaaan rasa takut yang masih tertanam di dalam hatinya.” (Shifatush Shafwah : II/164).

Dus, adakah kita masih menganggap diri kita lebih mulia dari orang yang kita pandang sebelah mata karena kemaksiatannya, sedang kita tidak pernah tahu bagaimana ending hidup kita ? Wallahul Musta’an. (oleh : Ibnu Abdul bari el ‘Afifi).

https://ibnuabdilbari.wordpress.com/2010/10/25/bisa-jadi-ia-lebih-baik/

Advertisements
This entry was posted in rendah hati/tawadhuk, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s