Perang Tabuk

Seberapa Jauh Tabukmu ?

Serial Tabuk  –  1

Oleh : Cahyadi Takariawan

Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik ? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat. Sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa ia tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah berangkat ?

Pasti ia punya kondisi dan situasi yang membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.

Fasilitas Itu….

“Aku sama sekali tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia. Ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memilikinya”.

Masyaallah. Demikian lugas pengakuan Ka’ab, “Ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu karena diriku dilalaikan oleh perhiasan dunia”.

Ternyata bukan hanya “orang awam” yang bisa dilalaikan oleh perhiasan dunia. Seorang mujahid, sahabat Nabi, terlahir menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan, tetap bisa terlalaikan oleh perhiasan dunia. Kurang apa Ka’ab. Tidak pernah absen dalam seluruh peperangan, benar-benar mujahid setia.

“Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu, aku memilikinya”.

Artinya, bukan soal fasilitas yang menyebabkan Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk.

Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh. Sesungguhnya Tabuk kita lebih simpel dibandingkan di zaman Ka’ab. Namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Coba ukur, seberapa jauh Tabukmu ?

Ada kader yang merasakan kesulitan ekonomi, yang menyebabkannya memiliki banyak keterbatasan dalam mengikuti kegiatan dakwah. Ia mengatakan, “Andai aku punya motor, tentu akan lebih banyak kegiatan dakwah yang bisa aku lakukan”. Ketika punya motor ternyata ia masih merasa banyak keterbatasan. “Andai aku punya mobil, tentu aktivitasku menjadi lebih leluasa”. Saat memiliki mobil, tetap saja banyak alasan. “Andai mobilku bagus, pasti tidak ada lagi kendala berkegiatan”.

Saat mobilnya sudah bagus, ternyata tetap saja ia tidak tergerak untuk aktif berdakwah. Apa yang terjadi padanya ? Padahal sekian banyak mujahid dakwah berjalan kaki melakukan kegiatan, dan berlelah-lelah di tengah keterbatasan sarana serta fasilitas. Dakwah tetap berjalan tanpa tergantung kepada ketersediaan dan kelengkapan fasilitas.

Mengapa ada yang tetap tidak berangkat ?

gambar : Google

Panas, Jauh, Lelah….

“Peperangan ini Rasulullah saw lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh… Rasulullah saw mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati : Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”

Bukan panas musim kemarau seperti yang sering kita alami di Indonesia, namun panas terik matahari gurun yang sangat menyengat. Sangat panas, harus menempuh perjalanan yang jauh, dan “hanya” untuk berperang. Bukan untuk rekreasi, bukan untuk wisata kuliner, bukan untuk menginap di hotel berbintang, bukan untuk tamasya dengan keluarga. Sangat panas, sangat jauh, naik kuda atau unta, tentu akan sangat lelah, dan di sana telah menunggu musuh yang sangat tangguh.

Tabuk di zaman Ka’ab sungguh jauh. Tidak ada pesawat terbang, tidak ada mobil ber-AC, tidak ada sarana yang memadai untuk menempuh jarak yang sedemikian panjang dan cuaca yang sangat panas terik.

Di zaman kita sekarang, Tabuk itu tidaklah jauh, tidak panas terik. Ada pesawat terbang, ada kereta api eksekutif, ada bus eksekutif, ada taksi, ada travel, ada mobil ber-AC, ada motor, ada sepeda. Tabuk kita bahkan tidak panas, namun “ketidakberangkatan” tetap saja terjadi. Sebenarnya, seberapa jauhkah Tabukmu ?

Awalnya kita merasa “Aku bisa melakukannya kalau aku mau !” Ah, tapi apa yang aku dapat kalau berangkat ?

Mengaji, di tempat para murabbi bahkan kita disuguhi. Rapat, di tempat pertemuan tersedia banyak jajanan. Berbagai agenda dakwah, seperti tatsqif, mabit, daurah, bahkan mukhayam, semua full fasilitas. Apa yang menghalangi untuk datang ke berbagai agenda dakwah tersebut ? Apa yang menjadi alasan ketidakberangkatan ?

Apa sebenarnya perang kita ? Apa yang ada di Tabuk kita ?

Dikuasai Kemalasan

“Akhirnya aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai bergerak meninggalkan Madinah. Saat aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku…”

Di zaman kita, ada kader yang melihat kader lain yang sangat aktif dan dinamis dengan berbagai agenda dakwah, sempat terpikir “Aku masih bisa mengejar mereka”. Ya, aku akan menyusul mereka. Tapi mengapa tidak engkau lakukan ? Mengapa tidak engkau susul mereka ? Mengapa engkau tetap tidak berangkat ? Apa alasan ketidakberangkatanmu ?

“Kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku……”

Padahal kita tidak bertemu panas terik gurun pasir. Kita tidak bertemu jarak yang demikian jauh untuk ditempuh dengan kaki. Yang kita temui adalah sarana dan fasilitas yang lengkap. Acara dari hotel ke hotel. Kegiatan dari rumah ke rumah. Rapat dari ruang ke ruang. Koordinasi dari gedung ke gedung. Semua nyaman, semua menyenangkan, semua sejuk, semua penuh dengan suguhan.

Mengapa tetap terjadi ketidakberangkatan ? Apa alasanmu ?

(Bersambung)

Ketidakberangkatan Menimbulkan Penderitaan

Serial Tabuk  –  2

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar ; Google

Ketidakberangkatan dalam kegiatan dakwah, selalu menimbulkan penderitaan bagi para aktivis. Seakan-akan memilih sikap yang enak, dengan tidak berangkat dan tidak mengikuti kegiatan dakwah. Namun yang didapatkan adalah perasaan menyesal dan menimbulkan penderitaan. Seperti yang dialami oleh Ka’ab bin Malik.

“Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut ke Tabuk. Namun sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw meninggalkan Madinah”.

Penderitaan Berkepanjangan

Pada awalnya Ka’ab masih merasa akan mampu menyusul Nabi dan para sahabat. Namun sampai hari berikutnya ia benar-benar tidak menyusul. Ia absen tidak berangkat ke Tabuk, padahal belum pernah ia absen dalam seluruh peperangan sebelumnya. Ia selalu hadir bersama Nabi dan para sahabat dalam semua aktivitas dakwah dan jihad. Baru kali ini ia absen. Namun apa yang dirasakannya kemudian ?

Perasaan bersalah, menyesal, terasing menyelimuti dirinya. Di semua sudut kota Madinah, isinya hanya dua bagian manusia. Satu bagian yang memang memiliki udzur syar’i untuk tidak berangkat ke Tabuk. Bagian lainnya adalah orang-orang munafik yang malas berangkat ke Tabuk dan memilih mengurus lahan perdagangan, pertanian dan keluarga. Lalu dimana posisi dirinya ?

Ia merasa bukan dari keduanya.

Maka muncullah perasaan menderita, merasa tidak nyaman, merasa tidak pada tempatnya, bagi kader yang tidak terlibat dalam dinamika dakwah. Walau mencoba menenangkan diri dengan berbagai dalil dan dalih, namun hati tidak bisa dibohongi. Berbagai alasan pembenaran diri hanya menenangkan orang-orang yang sudah terkotori hatinya. Namun bagi para aktivis yang selalu berusaha menjaga kebersihan jiwa, hatinya berkata jujur tentang apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Dari yang paling sederhana, paling kecil dan ringan dalam dakwah, sampai yang besar dan berat. Misalnya diundang rapat tidak hadir, padahal tidak ada alasan syar’i atas ketidakberangkatan tersebut. Tidak berangkat dalam jalsah ilmiyah, forum tarbiyah, kegiatan mabit dan lain sebagainya, padahal tidak ada udzur syar’i atas ketidakberangkatan itu. Tidak hadir dalam kegiatan mukhayam tarbawi, dalam aktivitas riyadhah jasadiyah, dan aneka kegiatan dakwah, tanpa kejelasan alasan.

Sepertinya sederhana. Toh sudah banyak yang datang rapat. Toh sudah banyak yang hadir dalam nadwah dan tarbiyah tsaqafiyah. Toh forum tarbiyah berjalan pekanan, sehingga masih banyak pekan lain yang akan bisa diikuti. Lalu mencoba mencari berbagai alasan, karena murabbi tidak simpatik, karena materi yang tidak menarik, karena forum yang tidak dinamis, karena manajemen kegiatan yang tidak rapi, dan seterusnya. Dikumpulkannya sejuta alasan atas ketidakberangkatan. Namun tidak akan bisa menenangkan hati, tidak akan bisa menenteramkan hati.

Karena semua aktivis mengetahui, bahwa seharusnya dirinya berangkat. Bahwa ketidakberangkatan adalah suatu aib yang tidak seharusnya terjadi. Maka berbagai alasan yang dihadirkan tidak akan bisa menghibur dirinya.

gambar ; Google

Ketidakberangkatan Menimbulkan Keterkucilan

Ketika para aktivis tengah sibuk dan bergiat dalam berbagai amal dakwah, maka ketidakhadiran akan menimbulkan perasaan keterkucilan.

“Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijin Allah Ta’ala untuk udzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya”.

Ka’ab benar-benar merasa terkucil, saat Nabi dan para sahabat mulia telah meninggalkan Madinah menuju Tabuk. Dimana posisi dirinya saat itu ?

Dimana posisiku saat kalian semua berlelah-lelah dalam lapangan dakwah, sementara aku tersibukkan oleh pekerjaan dan urusan rumah ? Dimana posisiku, saat kalian semua berjuang memenangkan dakwah, sementara aku tidak punya waktu untuk itu ? Dimana posisiku, saat kalian semua berpagi-pagi telah memenuhi panggilan dakwah, sementara aku sibuk dengan keluargaku sendiri ? Dimana posisiku, saat kalian semua sampai larut malam masih terus bekerja untuk kemajuan dakwah, sementara aku disibukkan oleh urusan pribadi ?

Aku terkucil dengan sendirinya. Ketidakhadiran dalam dakwah, selalu menimbulkan perasaan keterkucilan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di pernah menjelaskan tentang kebaikan, ”Salah satu bukti kebijaksanaan takdir dan hikmah ilahiyah, yaitu barangsiapa yang meninggalkan apa yang bermanfaat baginya -padahal memungkinkan baginya untuk memetik manfaat itu lantas dia tidak mau memetiknya- maka dia akan menerima cobaan berupa disibukkan dengan hal-hal yang mendatangkan madharat terhadap dirinya… Barangsiapa meninggalkan cinta, harap dan takut kepada Allah maka niscaya dia akan disibukkan dalam kecintaan kepada selain Allah, berharap dan takut karenanya…”

Maka demikian pula, barangsiapa meninggalkan dakwah, maka ia akan disibukkan dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan dakwah. Barangsiapa tidak bersama kafilah dakwah, maka ia akan disbukkan oleh kafilah lain yang tidak diikutinya. Ia menjadi terkucil. Barangsiapa menyengaja tidak hadir dalam agenda dakwah, maka ia akan disibukkan oleh agenda-agenda lain yang tidak memberikan kemanfaatan bagi dakwah.

Terkucil di jalan dakwah ? Itu karena ketidakhadiran dalam berbagai agenda dakwah. Penderitaan dan keterkucilan adalah akibatnya. Maka jangan pernah mencoba menyengaja membuat ketidakberangkatan dalam kegiatan dakwah yang seharusnya kita berangkat. Jangan pernah menyengaja menghindar dari dinamika dakwah yang semestinya kita berada di tengahnya. Jangan pernah menyengaja menjauh dari komunitas kebaikan yang seharusnya kita menjadi bagian utuh darinya.

Benar, jangan pernah lakukan itu.

(Bersambung_)

Tetaplah Husnuzhan atas Ketidakberangkatan Saudaramu

Serial Tabuk  –  3

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Dalam dakwah, ada banyak kondisi yang tidak selalu sama dengan harapan. Oleh karena itu selalu ada ruang permakluman yang kita sediakan, bukan untuk diri sendiri, namun untuk tetap berpikir, berprasangka dan memandang positif saudara kita. Sudah direncanakan mengadakan kegiatan, semua sudah sepakat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Namun ada satu atau dua orang terlambat. Ada yang tidak hadir dengan mengirim kabar berita, bahkan ada pula yang tidak hadir tanpa mengirim berita sama sekali.

Kita tidak memaklumi atas kemalasan, keterlambatan, ketidakhadiran kita sendiri pada kegiatan yang sudah ditetapkan dan disepakati. Kita mendisiplinkan diri untuk hadir tepat waktu, mendisiplinkan diri untuk tetap berangkat walau sangat banyak kendala kita temukan. Kita paksakan diri untuk tetap hadir walau sangat banyak alasan untuk mengelak dan menghindari kegiatan.

Semua Bisa Menjadi Alasan Ketidakberangkatan

Apa alasan kita untuk tidak datang atau tidak menghadiri kegiatan dakwah yang sudah ditetapkan dan disepakati ?

“Anak saya sakit panas, perlu obat”, itu suatu alasan, bukan ?

“Isteri saya minta diantar ke dokter”, itu alasan yang kuat.

“Suami saya baru datang dari bepergian jauh, saya harus menyambutnya”, jelas itu alasan yang masuk akal.

“Ibu saya tengah di Rumah Sakit”, inipun alasan kuat.

“Saya sudah janjian dengan klien untuk bertemu hari ini. Agendanya sangat penting, menyangkut status dirinya”, ini juga alasan.

“Bapak saya sedang berada di Kantor Polisi, ada urusan penting”, apakah ini alasan ? Tanyakan dulu, “Apa pekerjaan bapak kamu”. Dengarkan jawabannya, “Bapak saya adalah seorang Polisi……” Lah yawajar kalau setiap hari di Kantor Polisi.

Mungkin kita sudah merasa mampu mengalahkan semua alasan, dengan harapan semua orang akan melakukan hal yang sama. Sudah menjadi pengetahuan seluruh aktivis bahwa agenda dakwah ini sangat penting dan mendesak untuk dilakukan, sehingga seharusnya semua mengalahkan kesibukan diri agar bisa hadir dalam agenda tersebut. Dengan penuh semangat kita datang tepat waktu, setelah mampu mengatasi seluruh persoalan yang bisa menjadi alasan logis untuk tidak datang.

Alkisah, sepuluh orang aktivis dakwah bersepakat untuk bertemu dalam rangka melaksanakan sebuah agenda dakwah. Waktu dan tempat telah disepakati. Anda bersusah payah agar bisa hadir tepat waktu. Namun ternyata, hanya ada tiga orang saja yang hadir tepat waktu. Mana tujuh orang lainnya ? Satu per satu datang kemudian, dengan tingkat keterlambatan yang beragam. Masih ada tiga orang lagi yang belum hadir, padahal sudah terlambat lebih dari satu jam.

Seseorang mengirim kabar melalui sms, bahwa dirinya tidak bisa hadir karena alasan keluarga. Masih ada dua orang lainnya. Kemana mereka berdua ? Apakah lupa ? Apakah ada kendala ? Mari kita sediakan seribu alasan untuk memaklumi ketidakhadirannya.

gambar : Google

Kemana Ka’ab bin Malik ?

Ketika Ka’ab tidak berangkat ke Tabuk, tentu menjadi sebuah pertanyaan tersendiri bagi Nabi Saw dan para sahabat. Ka’ab bukan pemalas, Ka’ab bukan pecundang. Ka’ab adalah mujahid yang tangguh, tidak pernah absen dalam seluruh peperangan, kecuali dalam peristiwa Perang Tabuk. Wajar jika ditanyakan keberadaannya.

“Konon Rasulullah saw tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beliau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya : Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”

“Seorang dari Bani Salamah menjawab : Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!”

“Mu’adz bin Jabal menyangkal : Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja! Rasulullah saw hanya terdiam saja”.

Luar biasa Mu’adz. Ia telah menyediakan ruangan permakluman yang sangat luas dalam dirinya. Ia tidak berburuk sangka atas ketidakhadiran Ka’ab. Baginya, Ka’ab adalah seorang mujahid yang hebat, maka ia tidak mau berpikir negatif atas ketidakberangkatan Ka’ab di Tabuk.

Nabi saw tidak melalaikan seorangpun kadernya. Maka tatkala beliau mengetahui tidak ada Ka’ab di Tabuk, segera beliau bertanya : “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?” Subhanallah, betapa jeli dan teliti beliau. Ada seorang sahabat tidak hadir di Tabuk, dan beliau merespon.

Seorang sahabat mencoba menjelaskan kondisi Ka’ab, yang tengah memiliki kecukupan ekonomi saat menjelang berangkat ke Tabuk. “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Namun ungkapan ini cenderung berpikir negatif dan menuduh. Maka segera disangkal oleh Mu’adz, dengan persangkaan dan jawaban yang positif.

Jangan Manfaatkan Permakluman

Kita harus mencoba memaklumi kondisi saudara kita, atas keterlambatan atau bahkan ketidakhadirannya. Namun jangan manfaatkan permakluman itu untuk mengulang hal yang sama, dan memaafkan diri sendiri, untuk tidak datang tepat waktu, atau bahkan tidak datang sama sekali. “Toh sudah dimaklumi”, bukan begitu cara menggunakan permakluman.

“Kalau orang lain dimaklumi, mengapa saya tidak ?” bukan begitu pula cara menggunakan permakluman.

Jangan gunakan untuk diri sendiri, tapi gunakan untuk memahami kondisi orang lain. Gunakan untuk memaklumi saudara kita. Karena, nanti kita akan mengetahui, bahwa Ka’ab pun tidak dimaklumi; dan dia harus menanggung sendiri resikonya !

(Bersambung)

Perlukah Alasan Palsu ?

Serial Tabuk – 4

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Ini bukan judul lagu “Alamat Palsu”, tetapi sedang berhitung tentang alasan palsu. Banyak orang mengatakan kebohongan itu akan melahirkan kebohongan berikutnya. Untuk menutupi kesalahan, banyak orang melakukan kebohongan. Namun kebohongan akan diikuti oleh kebohongan lainnya, untuk menguatkan dan menutupi kebohongan sebelumnya. Jadilah rangkaian kebohongan yang tak ada putusnya.

Ka’ab bin Malik tergoda untuk membawa alasan palsu ke hadapan Nabi, sekembali beliau dari Tabuk. Sangat sulit posisinya, apa yang akan dikatakan kepada Nabi saw jika beliau bertanya alasan ketidakberangkatan ke Tabuk ? Betapa malu dirinya di hadapan Nabi dan para sahabat, jika ketidakberangkatannya tanpa alasan yang berarti. Tapi, apakah layak berbohong hanya untuk menyenangkan hati Nabi Saw, padahal Allah Maha Mengetahui segala yang tampak dan tersembunyi ?

Menghindari Kemarahan Qiyadah

Dalam dakwah tidak dikenal AQS, atau “asal qiyadah senang”. Persoalan dakwah bukanlah milik para qiyadah, sehingga para qiyadah harus dibuat senang. Dakwah itu milik bersama, yang harus dikelola dan dipertanggungjawabkan secara kolektif antara qiyadah dengan seluruh aktivisnya. Untuk itu, sangat wajar terjadi dinamika dalam gerakan dakwah, ada aktivis yang ditegur atas kelalaiannya, ada pula qiyadah yang dinasehati atas perbuatannya.

Ka’ab sempat terpikir untuk menghindari kemarahan Nabi Saw, dengan membawa sejumlah alasan palsu agar ketidakberangkatannya ke Tabuk bisa dimaklumi. Tapi, apakah yang dicari semata-mata selamat dari teguran Nabi di dunia ini, sementara kelak tidak selamat di sisi Allah ?

“Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw, bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik”.

Gelisah, itulah ciri orang yang salah. Sulit sekali menutupi rasa gelisah hati, karena tabiat dosa dan kesalahan adalah menggelisahkan. Hati orang beriman sangat sensitif dengan kebaikan dan keburukan, respon hati bercorak spontan dan tidak bisa direkayasa. Misalnya memaksa hati untuk tenang dan gembira, padahal ia melakukan kesalahan dan dosa; hal ini tidak bisa dilakukan oleh orang beriman. Ka’ab menampakkan kegelisahan hati yang tidak bisa ditutupi. Semakin dekat dengan waktu kepulangan Nabi Saw ke Madinah, perasaan gelisahnya semakin menjadi-jadi.

Ka’ab sampai menyempatkan diri untuk meminta pendapat beberapa orang keluarga yang dikenal memiliki keluasan pandangan. Semua perbuatan ini menunjukkan kegelisahan hati yang tidak bisa ditutupi. Persoalannya, apakah kegelisahan ini akan ditutupi dengan kebohongan dan alasan palsu di hadapan Nabi ? Apakah persoalan selesai, hanya  dengan usaha menghindari kemarahan beliau ?

gambar : Google

Tetapkan Jati Diri Aktivis Dakwah

Bukan kader dakwah jika membawa alasan palsu. Ketidakberangkatan ke Tabuk tidak akan selesai hanya dengan kebohongan dan alasan palsu. Maka Ka’ab segera memantapkan hati, membuang semua ketakutan dan kekhawatiran. Ia ingin tampil di hadapan Nabi apa adanya, tanpa perlu rekayasa, dan tanpa polesan citra.

“Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw dan mengatakan dengan sebenarnya”.

Inilah jati diri mujahid, berani menanggung resiko, berani bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Tidak perlu berpura-pura, tidak perlu mencari-cari dalil dan dalih pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya. Tidak perlu alasan palsu, karena justru akan semakin menjauhkan dari karakter aktivis dakwah yang sesungguhnya. Tetapkan jati diri aktivis dakwah yang istiqamah, yang memancarkan kemuliaan kendati dalam kondisi bersalah. Aktivis dakwah akan melakukan tazkiyah, pembersihan jiwa agar terbersihkan dari dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

“Pagi-pagi, Rasulullah saw memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah”.

Ada delapan puluh orang yang membawa alasan palsu, dan melakukan sumpah palsu, agar ketidakberangkatan mereka ke Tabuk dimaklumi oleh Nabi. Sebagaimana keinginan mereka, maka Nabi pun menerima alasan yang mereka sampaikan, dan tidak mempersoalkan. Bahkan Nabi memohonkan ampunan bagi mereka, sedangkan kondisi hati mereka yang sesungguhnya diserahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Mengapa Nabi menerima alasan dan sumpah palsu mereka ? Karena Nabi telah mengetahui, mereka tergolong munafik. Mereka bukanlah mujahid, maka sesungguhnya mereka hanyalah orang-orang yang lemah jiwa.  Mereka bukan kader, mereka bukan aktivis, maka sampaikanlah apapun yang ingin engkau sampaikan. Buatlah alasan sebanyak-banyaknya, toh Allah Maha Mengetahui apa yang engkau sembunyikan. Berbohonglah semaumu, dan engkau akan menanggung sendiri akibatnya kelak di akhirat.

Para aktivis bukanlah orang yang lemah jiwa. Maka mereka tidak layak mencari-cari alasan palsu dan mengadakan sumpah palsu. Mereka memiliki jati diri yang membuatnya selalu memilih jalan kemuliaan, sebagaimana yang ditempuh Ka’ab.

(Bersambung)

Katakan Saja Yang Sebenarnya

Serial Tabuk – 5

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Bagaimana kalau kita melakukan kesalahan, apa sikap yang harus kita munculkan? Jelas-jelas kita melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, karena melanggar syariat Allah. Atau jelas-jelas melanggar konstitusi organisasi, atau melanggar keputusan syura, atau melanggar perintah qiyadah. Tidak bisa dicari makna lain, yang kita lakukan memang benar-benar pelanggaran.

Pertama kali yang muncul adalah perasaan bersalah dan gelisah, ini menandakan kalau hati kita masih sehat dan bersih. Kedua, segera “bersihkan diri” dengan mengakui keasalahan yang telah kita lakukan. Katakan saja yang sebenarnya, jangan memperbanyak dan menumpuk kesalahan baru dengan berbohong dan mengajukan alasan palsu. Ketiga, segera menghadap qiyadah untuk mencari solusi atas kesalahan yang telah kita lakukan. Jangan menjauh dan jangan takut kemarahan qiyadah, tapi hadapi saja sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang telah kita lakukan.

Adalah Ka’ab, ia sudah bertekat untuk menghadap Nabi dan mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mau melakukan kebohongan sebagaimana dilakukan delapan puluh orang lainnya yang telah menghadap Nabi dengan alasan serta sumpah palsu. Tidak, Ka’ab bukan seperti mereka. Ka’ab adalah mujahid yang tangguh.

Tibalah Saat Yang Menegangkan Itu…

Saat itu benar-benar menegangkan. Perasaan bersalah, gelisah dan malu bercampur aduk menjadi satu pada diri Ka’ab. Semenjak ia tertinggal, tidak berangkat ke Tabuk, hatinya telah diliputi perasaan bersalah yang kompleks. Membayangkan nanti ketemu Nabi dan para sahabat sepulang mereka dari Tabuk, adalah peristiwa yang sangat menegangkan. Namun harus dihadapi, apapun resikonya.

“Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”

Subhanallah, Nabi Saw tidak langsung menegur dan memarahi Ka’ab. Bahkan Nabi saw tersenyum kepadanya. Dengan kelembutan perasaannya, Ka’ab merasakan bahwa senyum Nabi saw “memendam rasa marah”.

“Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”

Inilah pertanyaan yang sudah terbayangkan pasti akan disampaikan oleh Nabi saw kepadanya. Saat yang sangat menggelisahkannya, dan membuatnya tidak bisa tenang selama ini. Akhirnya tiba juga waktu yang “menakutkan” itu. Kini ia telah di hadapan Nabi saw. Ia telah melihat delapan puluh orang sebelumnya yang mengada-adakan alasan dan sumpah palsu untuk menutupi kesalahan dan kelemahan mereka.

Nabi mengkaitkan antara ketidakberangkatan Ka’ab dengan bai’at yang telah dilakukan Ka’ab kepada Nabi saw. “Mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?” Ini adalah salah satu penjelasan mengenai urgensi bai’at atau janji setia dalam dakwah. Bahwa dengan bai’at akan bisa digunakan untuk mengingatkan dan memotivasi pelakunya. Ka’ab sudah berjanji setia kepada Nabi, tapi mengapa tidak berangkat ke Tabuk ?

gambar : Google

Katakan Yang Sebenarnya

Tidak perlu berbohong. Katakan saja yang sebenarnya. Ini justru akan cepat menyelesaikan masalah dan menenangkan hati. Selamanya, kebohongan tidak akan bisa membuat hati tenang dan tenteram. Kebohongan akan selalu menggelisahkan.

“Aku menjawab : Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku tidak mengikutimu itu!”

Ketika berada di hadapan Nabi saw, ia telah bertekat untuk menyampaikan kondisi yang sesungguhnya. Ia ingin melakukan pengakuan dosa dengan tulus, yang dengan itu akan cepat menyelesaikan semua persoalan yang dihadapinya, dan akan mendapatkan solusi dari kesalahan yang telah dilakukan. Ia tidak mau menjadi munafik, ia tidak mau menjauh dari Nabi saw. Ka’ab telah memberikan contoh yang luar biasa bagi kita, jadilah kader yang bertanggung jawab. Hadapi semua masalah dengan kejujuran.

Perhatikan apa yang disampaikan, jawaban atas pertanyaan Nabi Saw. Pertanyaan Nabi adalah, “Mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?” Apakah jawaban Ka’ab ? Inilah jawaban seorang mujahid.

“Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku tidak pernah stabil dibanding tatkala aku tidak mengikutimu itu!”

Ya, Ka’ab telah menunjukkan kualitas dirinya benar-benar mujahid. Benar-benar kader yang militan dan tangguh. Sebagai manusia, ia berhak melakukan kesalahan, karena tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Namun sebagai mujahid, ia berani mempertanggungjawabkan kesalahan yang telah dilakukan. Ia menjawab lugas, apa adanya. “Ya Rasululah saw, demi Allah, aku tidak punya udzur”.

Lega, Ka’ab telah menyampaikan yang sebenarnya. Kini ia tinggal menunggu keputusan qiyadah atas kesalahan yang dilakukannya. Dan inilah keputusan itu….

Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

“Tidak salah lagi”, kata Nabi saw. Tidak salah lagi, Ka’ab memang mujahid. Tidak salah lagi Ka’ab memang bukan munafik. Tidak salah lagi Ka’ab memang mukmin sejati. Tidak salah lagi, Ka’ab memang kader dakwah yang setia. Tidak salah lagi, karena terbaca dari kejujuran Ka’ab.

(Bersambung)

Senior Bersalah Juga Dihukum

Serial Tabuk – 6

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Keputusan itu “sederhana” saja, bukan ungkapan yang berbelit-belit serta bertele-tele. Tidak rumit dan sulit dipahami. Nabi Saw telah memutuskan untuk Ka’ab, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!” Itulah keputusan qiyadah.

Cukup jelas bagi Ka’ab, maka ia tidak perlu bertanya lagi apa maksud kalimat Nabi tersebut. Sebagai mujahid, sebagai kader, ia sangat memahami keputusan itu. Pergi dari hadapan Nabi Saw, dan menunggu wahyu Allah untuk memberikan keputusan atas kesalahan Ka’ab. Itu saja. Tapi, apakah itu sederhana untuk dilakukan ? Tidak. Ternyata pelaksanaannya sangat menyakitkan.

Argumen Pembelaan

Pengakuan dan kejujuran telah disampaikan oleh Ka’ab di hadapan Nabi Saw. Tidak ada yang ditutupi, ia telah mengatakan kondisi yang sebenarnya. Keputusan juga sudah disampaikan oleh Nabi, maka tinggal melaksanakan keputusan tersebut. Ka’ab pun pergi, meninggalkan Nabi Saw.

“Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata : Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”

Orang-orang Bani Salamah tampak berusaha memberikan pembelaan dan penguatan hati kepada Ka’ab. Mereka mengingatkan, betapa lugunya engkau wahai Ka’ab. Mengapa engkau tidak pandai membuat alasan, seperti delapan puluh orang lainnya ? Bukankah alasan mereka semua diterima oleh Nabi ? Bahkan Nabi memintakan ampunan untuk mereka semua ? Lalu apa yang engkau takutkan untuk membuat-buat alasan ? Jika Nabi memintakan ampun, pasti Allah akan mengampunimu.

Begitulah orang-orang Bani Salamah memprovokasi Ka’ab. Mereka merasa lega telah mendapat permakluman Nabi Saw. Mereka merasa lebih lega lagi karena dimintakan ampunan oleh Nabi Saw. Logis sekali apa yang mereka kemukakan, seakan-akan itu logika yang benar dan bisa diterima. Ka’ab sempat dibuat bimbang oleh omongan orang-orang Bani Salamah.

“Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya”.

Rasa gelisah dan bimbang kembali menyerang hati Ka’ab. Kata-kata pembelaan dari orang-orang Bani Salamah terasa logis dan masuk akal. Sembari pergi meninggalkan majelis Nabi Saw, Ka’ab merasa perlu menimbang lagi “kepolosannya” tadi. Mengapa tidak membuat-buat alasan palsu kepada Nabi ? Toh kenyataannya delapan puluh orang membuat-buat alasan dan diterima oleh beliau, mengapa aku tidak ikut melakukan hal yang sama?

Apakah perlu kembali ke majelis Nabi Saw untuk membawa alasan palsu ? Haruskah itu dilakukannya ?

Ada Murarah dan Hilal, Keduanya Ahlul Badar

Ternyata tidak hanya Ka’ab yang datang dengan kepolosan dan kejujuran di hadapan Nabi Saw. Di tengah kebimbangan akibat diprovokasi orang-orang Bani Salamah, muncul keingintahuan Ka’ab, apakah ada yang “senasib” dengan dirinya.

“Aku bertanya kapada mereka, ‘Apakah ada orang yang senasib denganku?’
Mereka menjawab, ‘Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

“Aku bertanya lagi, ‘Siapakah mereka itu?’ Mereka menjawab, ‘Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi’. Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka”.

Ternyata, ada tiga orang mujahid yang tidak berangkat ke Tabuk. Bukan hanya Ka’ab seorang. Murarah dan Hilal ternyata juga absen, tidak berangkat ke Tabuk bersama Nabi saw dan para sahabat. Padahal Murarah dan Hilal, keduanya ahlul Badar, veteran perang Badar yang mendapatkan kemuliaan khusus dari Allah.

Lengkap sudah sejarah kemanusiaan. Ketidakberangkatan ternyata terjadi pada tokoh-tokoh yang menjadi panutan dalam sejarah keemasan Islam. Seakan Allah ingin menunjukkan kepada kita semua, bahwa mereka semua adalah manusia biasa, yang juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang utuh. Mereka bukan malaikat yang tidak memiliki opsi untuk melakukan dosa dan kesalahan. Sifat kemanusiaan bisa muncul pada siapa saja, dan pada kondisi apa saja. Termasuk pada mujahid sekaliber Ka’ab, Murarah dan Hilal.

gambar : Google

Senior yang Bersalah tetap Dihukum

Tentu saja bukan menjadi pembenaran bagi kita untuk melakukan dosa dan kesalahan. Namun ingin memberikan catatan, bahwa dosa dan kesalahan bisa saja dilakukan oleh orang senior, yang jasanya sangat banyak dalam dakwah. Karena mereka juga manusia biasa, yang tidak akan luput dari khilaf. Namun harus diingat pula, kesalahan mereka tidak dimaafkan begitu saja. Ada hukuman khusus yang diberikan kepada mereka bertiga, justru karena mereka adalah mujahid, justru karena mereka bukan “kader biasa”.

Untuk delapan puluh orang lainnya yang membawa alasan palsu dan membuat sumpah palsu di hadapan Nabi saw, beliau cepat menerima dan memintakan ampunan kepada Allah. Namun kepada ketiga orang mujahid tersebut, ada perlakuan khusus. Kendatipun telah banyak jasa mereka, kendati telah setia mengikuti berbagai macam peperangan selama ini, kendati telah banyak kontribusi bagi pergerakan dakwah, namun kesalahan harus tetap mendapatkan hukuman.

Dan ketiga mujahid itupun rela menerima keputusan hukuman. Mereka tidak protes, “Mengapa Nabi tidak menghukum delapan puluh orang yang membuat-buat alasan palsu itu?” Mereka tidak berontak, “Mengapa orang yang jujur justru dihukum, dan orang yang bohong tidak mendapat hukuman?” Mereka bertiga menerima keputusan dari qiyadah, menjadi pertanda bahawa memang mereka benar-benar mujahid sejati.

Mereka benar-benar kader yang setia.

(Bersambung)

Hukuman Itupun Dilaksanakan

Serial Tabuk – 7

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Jika memang engkau melakukan kesalahan, bersiaplah untuk menerima hukuman. Dengan cara itu, engkau memiliki harapan untuk mendapatkan rehabilitasi, lebih dari itu, ampunan Allah tentu jauh lebih utama. Sikap kerelaan mendapatkan hukuman adalah bagian dari karakter kader dakwah; yang selalu bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Tidak melarikan diri dari tanggung jawab, tidak menjauhkan diri dari persoalan, namun menghadapinya dengan sikap positif.

Ka’ab mengetahui bahwa dirinya akan mendapatkan hukuman, namun ia tidak pernah membayangkan mendapatkan sanksi sosial seberat ini. Benar-benar berat, dan belum ada seorang pun sahabat Nabi yang pernah mendapatkan hukuman semacam ini. Ia menjalani saja, tanpa melakukan protes, “Mengapa hanya saya yang mendapatkan hukuman seperti ini ? Bukankah si Fulan dan Fulan dulu juga pernah melakukan kesalahan, mengapa tidak mendapatkan hukuman seperti saya?”

Tidak, ia tidak melakukan pembelaan diri seperti itu.

Hukuman yang Sunyi

Hukuman ini panjang dan terasa “sunyi”, seperti penuturan Ka’ab.

“Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut”.

Episode hukuman yang “sunyi” tersebut telah dimulai. Para sahabat dilarang berbicara dengan Ka’ab, Murarah dan Hilal. Tidak diajak berbicara, bisakah engkau membayangkannya ? Bagaimana kita sehari saja tidak berbicara dan tidak ada orang mau berbicara kepada kita, seperti apa rasanya ? Nabi dan para sahabat mengasingkan Ka’ab, Murarah dan Hilal, serta tidak berbicara kepada mereka bertiga. Padahal mereka bertiga berada dalam komunitas kaum muslimin, setiap hari bertemu, berinteraksi, namun tidak ada tegur sapa kepada mereka bertiga.

Ada sekitar delapan puluh orang lain yang tidak berangkat ke Tabuk, namun karena mereka mengajukan alasan dan sumpah palsu di hadapan Nabi, maka mereka tidak dihukum.  Delapan puluhan orang ini bahkan berbaur seperti biasa, bergaul dengan semua sahabat Nabi, dan tidak diasingkan. Mereka berbicara, berbincang seperti hari-hari lainnya. Sama-sama tidak berangkat ke Tabuk, mengapa tiga orang ini dihukum, dan delapanpuluh lainnya tidak dihukum ?

Nabi saw tahu pasti kualitas mereka bertiga, berbeda dengan delapanpuluh orang lainnya. Nyatanya, mereka bertiga menjalani hukuman sunyi tersebut, dan tidak memprotes tindakan Nabi atas pemberlakukan hukuman yang “tidak merata” tersebut. “Mengapa mereka tidak dihukum ? Mengapa hanya kami bertiga yang dihukum ?” Tidak ada protes dan perlawanan seperti itu.

Mereka bertiga tahu persis, mengapa harus dihukum.

gambar : Google

Hidup Terasing di Negeri Sendiri

Menjalani hukuman sunyi, sepertinya sederhana saja, Bukan di penjara, bukan diborgol, bukan dibuang ke luar negeri. Namun hukuman itu benar-benar terasa berat bagi mujahid yang selalu menghendaki kebaikan dalam segala aktivitasnya. Mereka bukan ahli maksiat, bukan penjahat, hanya saja mereka bertiga melalaikan kewajiban berangkat ke Tabuk. Sekali itu saja, belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.

“Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kepada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka”.

Bisakah engkau membayangkan seperti apa rasanya dikucilkan dari pergaulan orang-orang salih ? Seperti apa rasanya tidak diajak berbicara dan berkomunikasi dengan jama’ah ? Seperti hidup di sebuah negeri yang asing, padahal itu negeri sendiri. Seperti berada dalam komunitas yang asing, padahal itu jama’ah sendiri. Seperti berada dalam lingkungan yang berbeda, padahal itu sahabat yang lama.

Didiamkan oleh qiyadah, betapa sedih hati setiap kader. Berharap-harap qiyadah bersedia menyapa dan mengajak berbicara. Namun semua orang diam. Semua orang menjauh. Semua sahabat tidak mau berbincang walau sekejap. Dirinya seakan hilang di dalam kerumunan orang-orang shalih. Tanpa bekas, menguap bersama udara. Entah kemana. Tidak ada yang melihat kepadanya. Tidak ada, semua tidak mempedulikannya.

“Aku keluar untuk shalat jamaah dan keluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majilis Rasullah saw sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, ‘Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”

Dimanapun engkau berada, tidak ada orang yang peduli denganmu. Berbelanja di pasar, di toko, di super market. Datang ke kantor organisasi dakwah, melihat orang rapat, melihat saudara-saudaramu berkegiatan dan engkau sangat ingin membantu, namun  semua diam dan tidak memandang kepadamu. Seakan engkau tidak ada. Seakan hilang semua kebaikanmu yang telah engkau lakukan selama ini. Mereka semua tidak memandangmu, apalagi berbicara. Mereka tidak mempedulikan keberadaanmu.

Semua engkau rasakan sangat sunyi. Tidak ada suara apapun yang masuk ke telingamu. Ada banyak suara di sekitarmu, namun tidak ditujukan kepada dirimu. Siapapun orang, semua sibuk dengan diri dan orang lain, namun tidak peduli kepadamu. Semua suara, semua pembicaraan, tidak ada satupun yang ditujukan kepada dirimu. Engkau melihat saudaramu para aktivis dakwah, berkegiatan siang dan malam. Betapa ingin engkau bersama mereka, mengobrol, bercanda, berkegiatan bersama. Namun tak ada yang melihatmu. Sama sekali.

Dimana posisi dirimu jika berada pada kondisi seperti itu ? Masihkah engkau bersama dakwah dan jama’ah, sementara dakwah dan jama’ah mengucilkanmu ? Masihkah engkau bersama kafilah para aktivis, sementara mereka tidak mempedulikanmu ? Bahkan engkau tidak tahu, sampai kapan pengucilan ini akan dilakukan. Apa sikapmu pada kondisi itu, masihkah engkau akan setia bersama dakwah dan jama’ah ? Padahal semua telah mengasingkanmu…..

Kesunyian Itu Mematikanmu

Bisakah engkau bayangkan, bagaimana  sebuah dunia yang sunyi ? Sebuah dunia tanpa suara, seperti apa rasanya ? Sebuah dunia tanpa kata, seperti apa bentuknya ? Engkau bisa mati dalam kehidupanmu. Engkau bisa tercekik oleh keheningan yang diciptakan khusus untukmu. Engkau bisa sesak nafas oleh himpitan kesunyian yang berlebihan.

Ka’ab tetap berusaha mendekat kepada Nabi Saw, namun beliau tetap bersikap dingin, tidak ada respon sama sekali. Betapa lama kesunyian ini….

“Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali”.

Lama sekali hukuman sunyi ini terjadi. Kapan akan segera berakhir ?

(Bersambung)

Siapa Yang Akan Menolongmu ?

Serial Tabuk – 8

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Ketika engkau melakukan kesalahan, maka hanya dengan bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah, engkau memiliki harapan untuk mendapat kebaikan dan pertolongan. Hukuman kesunyian itu sangat menyiksamu, sangat melelahkanmu, sangat menguras perasaan dan mendatangkan kelelahan batin yang teramat sangat. Pada konsisi seperti itu engkau ingin sedikit berbagi, ingin sedikit mendapat perhatian, ingin sedikit mendapat apresiasi.

Sempit dadamu terasa hampir meledak. Kau beranikan diri datang kepada seorang kerabat yang engkau sangat yakin ia akan bisa menolongmu. Berharap ia akan sedikit meringankan penderitaanmu. Sekedar memberi apresiasi, sekedar berbagi, yang dengan itu engkau akan meluapkan perasaan yang terpendam.

Mencari Pertolongan

Ka’ab berusaha menenangkan hati. Rasa bersalah, rasa gelisah dan resah, bercampuraduk. Diberanikan diri mendatangi rumah seorang kerabat.

“Pada suatu hari, aku mengetuk pintu pagar Abu Qatadah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku”.

Abu Qatadah, ia saudara yang amat dicintai Ka’ab. Berharap mau mendengarkan pembicaraannya, namun itu tidak terjadi. Menjawab salam pun tidak. Seakan sudah putus hubungan sama sekali. Seakan persaudaraan yang telah terjalin sekian lama itu tidak berarti lagi. Namun Abu Qatadah juga sedang melaksanakan perintah, sebagaimana sahabat lainnya, bahwa mereka tidak boleh berbicara kepada Ka’ab, Murarah dan Hilal.

Jangan salahkan Abu Qatadah. Ia juga hanya menjalankan perintah dari qiyadah. Semua telah menjalankan amanah, dan lihatlah betapa mulia sikap mereka. Ka’ab tetap berusaha mendapat sedikit apresiasi dari saudaranya itu.

“Aku menegurnya, ‘Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Sebuah pertanyaan kecil, untuk mendapatkan pengakuan dan apresiasi. Namun Abu Qatadah tidak bergeming.

“Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”

Empat kali Ka’ab menyampaikan pertanyaan itu, sekedar mendengar jawaban kecil dari saudaranya itu. Mungkin jawaban “Ya, aku mengetahui itu” sudah akan sangat menyenangkan dan menenangkan hati Ka’ab. Namun Abu Qatadah tidak mau bertindak lancang. Ia hanya diam. Itu adalah sikap standar dalam situasi hukuman sunyi yang diberikan kepada Ka’ab.

“Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa”.

gambar : Google

Allah dan Rasul Lebih Tahu Kondisimu

Lihat betapa tegar Abu Qatadah bertahan. Kita yakin ia pasti tahu betapa kecintaan Ka’ab kepada Allah dan Rasul yang sangat besar. Jika Ka’ab tidak mencintai Allah dan Rasul, sudah pasti ia akan menjadi orang munafik yang membawa alasan palsu serta membuat sumpah palsu di hadapan Nabi Saw. Namun ia tidak mau melakukan itu.

Ia hanya mengatakan, setelah empat kali pertanyaan dilontarkan Ka’ab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”

Kira-kira ingin berpesan kepada Ka’ab, kembalilah kepada Allah dan Rasul. Sungguh Allah dan Rasul lebih tahu kondisimu, dibandingkan dengan aku atau manusia lainnya.

Maka berharaplah hanya kepada Allah atas segala yang kau inginkan. Jika engkau berharap pengampunan, sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Jika engkau berharap pertolongan, sesungguhnya Allah Maha Penolong. Jika engkau berharap pengertian, maka sungguh Allah Maha Mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi.

Engkau tidak bisa berharap dari manusia, karena semua manusia lemah dan penuh keterbatasan. Jika engkau telah menempuh jalan kebenaran, hadapi semua resiko yang ada di dalamnya dan jangan menjadi cengeng oleh karena perlakuan yang engkau terima di jalan ini.

Mungkin engkau merasa, betapa kejamnya qiyadah kepadaku. Mungkin engkau merasa, beta teganya jama’ah kepada diriku. Bukankah aku telah berkontribusi, aku telah berbakti, aku telah terlibat di jalan ini dengan sepenuh hati, mengapa aku harus diperlakukan seperti ini ? Mengapa orang-orang yang belum jelas kontribusinya justru diberi kebebasan, sementara aku yang telah mengukir jasa justru diperlakukan dengan pemberian hukuman ?

Mungkin engkau menjadi melankolis dan merasa dizalimi, lalu engkau merasakan aroma ketidakadilan atas keputusan yang diberikan kepadamu. Namun itu tidak boleh engkau jadikan alasan untuk disersi, karena itu keputusan musyawarah. Itu keputusan jama’ah. Di antara kita memang tidak ada Nabi, dan kita semua sama sekali tidak sekualitas para sahabat Nabi. Sangat jauh dari itu. Namun kita memiliki sistem, kita memiliki mekanisme, kita memiliki konstitusi, kita juga memiliki pimpinan. Itu yang harus kita ikuti.

Saat hatimu merasakan kesempitan karena “perlakuan” jama’ah kepada dirimu, ingatlah engkau memiliki Allah yang bisa menolongmu. Saat perasaanmu merasa disakiti karena hukuman yang diberikan kepada dirimu, ingatlah engkau memiliki Allah untuk tempat berlindung, tempat mengadu, dan tempat mencurahkan segala isi hati. Jangan ikuti perasaan itu, jangan disikapi dengan berlebihan kata hati itu, kembalilah kepada ketegaran jiwamu sebagai mujahid, sebagai kader dakwah yang gagah.

“Memang aku bersalah, maka aku menerima keputusan jama’ah kepada diriku”. Katakan itu dengan yakin dan mantap dalam jiwamu, sembari berharap Allah akan mengampuni dan memberikan kebaikan kepadamu.

Benar kata Abu Qatadah, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!” Ya, Allah lebih tahu kondisimu, maka mendekatlah kepadaNya. Jangan menjauh dariNya.

(Bersambung)

Jangan Ikuti Ajakan Raja Ghassan

Serial Tabuk – 9

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Pada saat engkau merasa terasing dari dakwah dan jama’ah, pada saat engkau merasa resah karena tengah mendapat suatu uqubah, akan banyak ajakan mendatangimu. Banyak suara-suara pembelaan, suara simpatik, suara empati, suara yang mengajakmu berpaling dari dakwah dan jama’ah. Ada banyak tawaran yang bisa membuatmu berpikir ulang atas janji setia di jalan dakwah.

“Anda itu tokoh yang luar biasa. Mengapa organisasi anda tega memperlakukan anda seburuk ini?”

“Anda tidak layak mendapat perlakuan seperti ini. Jelas ini satu kesalahan dari organisasi anda yang tidak bisa menempatkan posisi anda pada tempat yang semestinya. Kami lebih bisa menempatkan anda pada posisi yang istimewa”.

“Pemimpin anda tidak adil. Bukankah banyak orang melakukan kesalahan yang sama, namun mengapa mereka tidak dihukum ? Mengapa hanya anda yang mendapat hukuman? Ini jelas suatu kezaliman”.

“Bergabunglah bersama kami. Sebagaimana anda, kami dulu juga aktivis, namun dikecewakan. Mari bergabung dalam kumpulan kekecewaan”.

Dan sangat banyak tawaran posisi, jabatan, kedudukan, kemuliaan yang diberikan kepadamu. Pastilah engkau memiliki sesuatu yang sangat menarik, karena senioritas di pergerakan dakwah, dan peranmu selama ini dalam dinamika organisasi dakwah. Engkau dianggap memiliki daya panggil yang cukup kuat, untuk kepentingan apapun yang diinginkan orang atau pihak lain terhadapmu.

Berhati-hatilah atas berbagai macam ajakan itu. Tetaplah berpegang dan konsisten dengan dakwah dan jama’ah.

Ajakan Itu Adalah Ujian

Ingatlah bahwa berbagai macam ajakan itu menjadi ujian baru bagimu. Pada kondisi engkau memerlukan teman berbagi, engkau memerlukan pengakuan dan apresiasi, muncullah ajakan dan tawaran itu. “Bergabunglah kepada kami. Untuk apa anda masih mengikuti organisasi yang tidak bisa memberikan tempat terhormat bagi orang sekelas anda”. Waspada, jangan terprovokasi oleh suara merdu itu.

“Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinah. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, ‘Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”

“Orang-orang di pasar itu menunjuk kepadaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dari Raja Ghassan”.

Luar biasa perhatian Raja Ghassan terhadap Ka’ab bin Malik. Pada posisinya yang sulit karena tengah menjalani hukuman dari Nabi saw dan para sahabat, seorang raja memberikan perhatian khusus kepadanya. Pada saat semua orang tidak ada yang peduli kepadanya, ternyata masih ada orang yang menyapanya, bahkan ia adalah Raja. Pada saat saudara dekatnya pun tidak mau berbicara dengannya, ternyata masih ada orang peduli kepada nasibnya.

Raja Ghassan, apa yang ia inginkan dari Ka’ab, sampai mengutus orang untuk memberikan surat kepadanya ?

“Setelah kubuka, isinya sebagai berikut : …..Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kami akan menghiburmu!”

Luar biasa menarik tawaran itu. Bukankah Ka’ab tengah memerlukan hiburan, karena dirundung kesedihan mendalam ? Bukankah Ka’ab tengah memerlukan teman untuk berbagi, tengah memerlukan sedikit perhatian, pengakuan dan apresiasi ? Saat komunitas para sahabat tidak memberikan itu kepadanya, ternyata perhatian, pengakuan dan apresiasi justru datang dari Raja Ghassan.

Untunglah yang mendapatkan surat ajakan itu Ka’ab bin Malik, seorang mujahid yang hebat. Ia bukan orang yang mudah dibujuk dan dirayu. Ia bukan orang yang mudah diajak melakukan pembangkangan. Tidak ada ungkapan pembandingan dari Ka’ab, “Orang lain yang jauh saja mengakui potensiku, dan memberikan perhatian kepada nasibku. Sementara orang-orang dekatku, yang satu jama’ah denganku, justru tidak peduli dengan diriku”.

Tidak, tidak ada kalimat seperti itu dari Ka’ab. Ia menyadari sepenuhnya, surat Raja Ghassan itu adalah ujian berikutnya yang harus dihadapi dengan sepenuh kesadaran dan pemahaman.

“Hatiku berkata ketika membaca surat itu, ‘Ini juga salah satu ujian!’ Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya”.

gambar : Google

Bakar Saja Surat Raja Ghassan Itu

Sangat tegas sikap Ka’ab. Ia tidak mau menjadikan surat itu sebagai “bergaining” posisi dengan Nabi dan para sahabat. Ia tidak mau menjadikan surat itu sebagai ancaman untuk menaikkan posisi tawarnya di hadapan komunitas kaum muslimin. “Kalian tahu tidak, kalau kalian tetap menghukumku seperti ini, aku bisa meninggalkan kalian dan mendapat posisi yang lebih baik di sisi Raja Ghassan!” Tidak, Ka’ab tidak melakukan negosiasi dengan Nabi dan para sahabat.

Ia tidak akan bernegosiasi soal posisi dirinya. Bukan itu yang diinginkan. Ka’ab hanya menginginkan keridhaan Allah dan RasulNya. Ka’ab hanya ingin mendapatkan kecintaan Allah dan RasulNya. Bukan pengakuan orang, bukan apresiasi Raja Ghassan, bukan sikap empati manusia terhadap dirinya. Bagi Ka’ab, sikap yang harus diambil sudah final, dan ia telah melakukan dengan tepat.

“Hatiku berkata ketika membaca surat itu, ‘Ini juga salah satu ujian!’ Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya”.

Apakah engkau juga mendapatkan ajakan dari Raja Ghassan ? Siapa Raja Ghassan itu di zaman kita sekarang ? Jika memang engkau mendapatkan ajakan serupa, bakar saja ajakan-ajakan menyesatkan itu. Tetaplah berada di jalan dakwah, dan tetaplah berpegang kepada jama’ah.

Lalu engkau memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

Lengkap Sudah Kesunyian Itu

Serial Tabuk – 10

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Sampai kapan hukuman sunyi ini berakhir ? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban. Hari demi hari terasa demikian panjang dan melelahkan. Hidup bersama komunitas orang-orang shalih, namun justru diasingkan. Tidak ada yang mengajaknya bicara, tidak ada yang menyapa, tidak ada yang peduli dengan keberadaannya. Semua diam membisu kepadanya. Seakan dirinya tidak ada di lingkungan mereka.

Semua hukuman sunyi itu dijalani dengan sepenuh keikhlasan dan kesadaran diri. Dalam situasi kesedihan mendalam akibat hukuman, ujian masih datang lagi dengan adanya surat dari Raja Ghassan yang mengajak Ka’ab untuk meninggalkan komunitas Nabi saw. Surat Raja Ghassan itu sungguh sebuah ujian keikhlasan, yang datang tepat pada waktunya. Ka’ab mampu melewati ujian ini dengan sempurna. Dibakarnya surat Raja Ghassan tersebut.

Hukuman Ditambah Lagi

Belum cukup hukuman yang sangat melelahkan ini dilalui, ternyata masih ada tambahan hukuman lagi. Belum selesai “masa pendadaran” yang diberikan kepada para mujahid yang melalaikan kewajiban. Semua itu untuk semakin mengokohkan kebaikan mereka dan meneguhkan keimanan mereka, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman sepanjang zaman.

“Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampung halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw menyampaikan pesannya, ‘Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Masyaallah. Ka’ab berharap segera datang utusan yang memberitakan pengampunan dirinya. Ka’ab berharap segera ada berita tentang berakhirnya masa hukuman baginya. Kesunyian ini sudah berlangsung empat puluh hari empat puluh malam. Sangat panjang dan sangat melelahkan jiwa. Sehari tidak diajak bicara saja sudah akan sangat membuat kesedihan mendalam, bagaimana rasanya didiamkan sampai empatpuluh hari empatpuluh malam.

Ternyata yang datang bukan utusan untuk memberitahukan pengampunan, justru memberitahukan bertambahnya hukuman bagi Ka’ab. Hukuman berikutnya adalah menjauhi isteri. Harus hidup terpisah dari isteri. Ini seperti dalam penjara, dimana di dalam sel hidup sendirian, tanpa teman, tanpa anak dan isteri yang menemani.

“Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, ‘Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?’ Ia menjelaskan, ‘Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Ka’ab memperjelas, apakah yang dimaksud menjauhkan diri dari isteri itu bercerai, atau pisah tempat tinggal saja. Ternyata yang dimaksud adalah pisah tempat tinggal. Ka’ab tidak boleh tinggal bersama isterinya dan oleh karena itu tidak boleh dilayani sang isteri. Ia harus hidup sendiri, tanpa dilayani keluarga. Lengkap sudah kesunyian ini. Ia akan segera menjalani babak baru dalam hukumannya, setelah empatpuluh hari didiamkan Nabi dan seluruh sahabat, mulai hari ini harus berpisah tempat tinggal dengan isteri.

Dan Ka’ab, ia mujahid sejati. Ia tidak akan memberontak dan menolak hukuman berikutnya ini.

gambar : Google

“Hukuman Tambahan” Pun Mulai Dijalani

Rupanya demikian berat hukuman desersi. Seorang mujahid yang seharusnya berangkat perang ke Tabuk, namun justru bersantai saja di rumahnya, bukanlah kesalahan yang ringan. Buktinya hukuman masih ditambah dan ditingkatkan. Ka’ab, Murarah dan Hilal menerima hukuman yang sama. Kesunyian telah mereka jalani selama empatpuluh hari, kini ditambah dengan menjauhkan diri dari isteri.

“Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, ‘Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”

Mulailah hukuman tambahan ini dijalani. Ka’ab memerintahkan sang isteri agar pergi ke rumah keluarganya, sehingga ia tinggal sendirian saja di rumah. Empatpuluh hari hukuman yang telah dijalani, sudah sedemikian terasa berat, namun masih ditemani isteri. Mulai hari ini, ia harus menghadapi semuanya sendiri. Tidak ada siapapun lagi yang ia miliki. Bahkan isteripun tidak lagi mendampingi.

Tiga orang mujahid memulai lembar kehidupan mereka, menyesali kelalaian mereka, meratapi kesalahan yang telah mereka lakukan. Berharap segera ada pengampunan dari Allah melalui Nabi saw. Ka’ab pun melalui hari-hari hukuman selanjutnya dalam kesendirian. Bertambah sempurna kesunyian yang sudah dilewati selama ini.

Mujahid Juga Manusia

Hikmah tarbawiyah sangat besar kita dapatkan dari kesalahan mereka. Sepertinya Allah ingin memberikan pelajaran kepada kita semua, melalui kesalahan orang-orang salih terdahulu. Melihat posisi tiga orang mujahid tersebut di dalam dakwah Islam, rasa-rasanya “mustahil” mereka melakukan kesalahan sebesar itu. Namun Allah tunjukkan hikmah yang lain, sebab jika generasi keemasan Islam tidak pernah ada orang bersalah, maka kita tidak bisa mengambil ibrah dari kesalahan mereka. Mungkin generasi kita akan mengalami kesulitan yang lebih besar untuk mencontoh kehidupan generasi para sahabat, jika di lingkungan mereka tidak pernah ada orang bersalah.

Mungkin kita akan menganggap bahwa generasi sahabat itu “untouchable”, tidak mungkin kita berkaca dari mereka, karena mereka orang-orang yang tidak pernah bersalah, karena mereka orang-orang yang tidak memiliki sisi lemah. Maka Allah berikan satu dua contoh, bahwa di antara orang-orang sekapasitas sahabat Nabi pun ada yang melakukan kesalahan. Dalam kisah perang Tabuk, ternyata ada tiga mujahid melakukan kelalaian. Jadi, tampaklah kepada kita bahwa mereka “masih” manusia biasa, bukan para malaikat yang tak pernah melakukan kesalahan dan kelalaian.

Semua orang memiliki peluang melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang bersedia mengakui kesalahan itu dan melakukan taubat serta perbaikan. Salah satu usaha perbaikan itu adalah dengan jalan menerima hukuman, dan menjalaninya dengan sepenuh kesadaran dan kerelaan.

(Bersambung)

Tidak Perlu Meminta Keringanan Hukuman

Serial Tabuk – 11

Oleh : Cahyadi Takariawan

gambar : Google

Kondisi semua orang berbeda-beda, tidak pernah sama. Kendati sama-sama mujahid, sama-sama aktivis, namun satu dengan lainnya selalu memiliki perbedaan. Bisa disebabkan karena perbedaan usia, atau kesehatan, atau kekuatan badan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam menjalani suatu hukuman, apresiasi setiap orang juga bisa berbeda, kendati hukumannya sama.

Dalam sejarah Islam dikenal ada sikap yang berbeda dalam menjalani hukuman, dan dengan kearifan Nabi saw, beliau bisa memberikan keringanan kepada orang tertentu karena adanya kondisi tertentu. Seperti hukuman yang dijalani oleh Ka’ab, Murarah dan Hilal. Ketiga orang ini melakukan kesalahan yang sama, yaitu tidak berangkat ke Tabuk. Hukuman yang diberikan juga sama, yaitu didiamkan oleh nabi dan para sahabat, hingga empatpuluh hari empatpuluh malam. Masih ditambah dengan hukuman menjauhkan diri dari isteri, setelah memasuki hari keempatpuluh.

Meminta Keringananan Hukuman

Ka’ab menjalankan hukuman tambahan, berupa menjauhi isteri, dengan segera. Tanpa menunda waktu, ia langsung menyuruh isterinya kembali ke rumah keluarganya, sehingga ia memulai menjalani kehidupan sendiri. Namun Hilal memiliki kondisi yang berbeda dengan Ka’ab.

“Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw lalu ia bertanya, ‘Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”

“Rasulullah saw. menjawab, ‘Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!’
Istri Hilal menjelaskan, ‘Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”

Ka’ab, Murarah dan Hilal mendapatkan hukuman yang sama, termasuk tambahan hukuman yang sama. Namun Hilal sudah lebih tua dibanding Ka’ab dan Murarah. Maka tatkala datang perintah menjauhi isteri, muncullah perasaan tidak tega pada isteri Hilal. Sungguh suaminya sudah tua, dan tidak memiliki pembantu untuk merawatnya. Ia tidak tega membayangkan Hilal yang sudah tua itu harus menjalani hidup sendiri. Maka isteri Hilal segera datang menghadap Nabi untuk meminta keringanan hukuman, dan dengan kebijakan Nabi saw, permintaan itu dikabulkan.

Subhanallah, betapa mulia adab para sahabat. Mendapatkan hukuman dari Nabi saw, mereka mendengar dan taat. Ketika hukuman itu terasa memberatkan bagi Hilal, isterinya mengusahakan untuk memintakan keringanan bagi sang suami. Menghadap Nabi saw dan menceritakan kondisi Hilal, merupakan hak yang diakui oleh Nabi saw. Bukan suatu kesalahan atau aib, untuk menyampaikan pandangan kepada Nabi saw, karena isteri Hilal sangat mengetahui kondisi suaminya. Ternyata pengaduan isteri Hilal didengarkan dan diterima oleh Nabi saw.

Isteri Hilal tidak menolak hukuman tambahan bagi suaminya. Ia hanya menyampaikan kondisi Hilal kepada Nabi, dan mencoba memintakan keringanan. Ia juga tidak mau melayani suaminya dengan diam-diam, di luar pengetahuan Nabi saw. Sungguh contoh interaksi yang sangat mulia, antara orang-orang beriman, yang sangat mencintai Allah dan RasulNya.

Dengan demikian, isteri Hilal tetap diperbolehkan untuk menemani dan melayani Hilal di rumah, karena kondisi fisik Hilal yang sudah tua dan lemah, Yang dilarang adalah hubungan seksual, namun isteri Hilal sudah menyatakan di hadapan Nabi saw, bahwa “Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”

Keringanan hukuman pun diberikan untuk Hilal. Bagaimana dengan Ka’ab ?

gambar : Google

Mengapa Meminta Keringanan?

Ketika melihat Hilal mendapatkan keringanan hukuman dari Nabi saw, dalam bentuk isterinya boleh menamani dan melayani keperluan Hilal di rumah, muncullah pikiran pada sebagian orang untuk melakukan hal yang sama bagi Ka’ab. Hilal saja diberi keringanan, semestinya juga bisa didapatkan oleh Ka’ab kalau mau meminta keringanan kepada Nabi saw.

“Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, ‘Coba minta izin kepada Rasulullah supaya isterimu melayani dirimu seperti halnya isteri Hilal bin Umayah!’ Aku menjawab tegas, ‘Tidak. Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw tentang isteriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?’

Ka’ab paham benar mengapa keringanan hukuman itu diberikan kepada Hilal. Itu terkait dengan kondisi Hilal yang sudah tua, sementara ia merasa masih muda dan kuat. Tidak pantas baginya untuk ikut meminta keringanan hukuman. Jadi, keringanan itu hanya diminta apabila memang ada kondisi khusus yang mengharuskan untuk mendapat keringanan. Jika memang tidak ada kondisi khusus itu, tidak sepatutnya mujahid menjadi cengeng dan meminta keringanan.

Luar biasa ketegasan Ka’ab atas usulan kerabatnya agar ia meminta keringanan dari Nabi saw. Sebagai mujahid muda, ia merasa sanggup untuk menjalani hukuman itu dan tidak perlu meminta keringanan dari Nabi. Ia juga tidak merasa cemburu, tidak merasa dibedakan, tidak merasa ada perlakuan yang diskriminatif terhadap dirinya. Ia meyakini sepenuhnya keadilan Nabi saw, dan ia telah bertekat untuk menjalani hukuman itu hingga Allah menurunkan keputusanNya.

Mungkin jika hal itu terjadi di zaman sekarang, akan ada banyak aktivis yang protes, karena perbedaan hukuman. Ada yang diberi keringanan, ada yang tidak. Bahkan mungkin akan menjadi gugatan atas sikap jama’ah yang dianggap diskriminatif dan tidak adil dalam mensikapi hukuman kepada anggotanya yang berbeda-beda. Namun hal itu tidak akan terjadi pada aktivis yang mengerti dan memahami esensi hukuman dan munculnya keringanan.

Ka’ab adalah mujahid yang tangguh. Ia hadapi hari-hari dalam kesunyian yang semakin bertambah sunyi. Mulai hari keempatpuluh, ia harus menjalani hidup sendiri. Tidak ditemani isteri, tidak dilayani isteri. Ia tidak mau meminta keringanan hukuman kepada Nabi. Ia yakin akan mampu menjalani semua hukuman dengan sepenuh kepasrahan diri. Hanya ampunan dan ridha  Allah yang ia nantikan kini.

“Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam”.

(Bersambung)

Artikel asal – http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2178

Advertisements