Masa terus berlalu..

Sungguh, Kita Telah Banyak Menyia-nyiakan Waktu

Hasan Al Bashri mengatakan, ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya bagaikan hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.” (Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi)

Waktu Pasti akan Berlalu, Beramallah

Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri, إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل. “Sesungguhnya engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, namun engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramallah.” (Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah)

Waktu Bagaikan Pedang

Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, صحبت الصوفية فلم أستفد منهم سوى حرفين أحدهما قولهم الوقت سيف فإن لم تقطعه قطعك “Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Jika Tidak Tersibukkan dengan Kebaikan, Pasti akan Terjatuh pada Perkara yang Sia-sia Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas,

“Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain: ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).” (Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Waktu Berlalu Begitu Cepatnya

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu

Lalu Ibnul Qoyyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Al Jawabul Kafi, 109)

Janganlah Sia-siakan Waktumu Selain untuk Mengingat Allah

Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.” (Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah)

Semoga kita memanfaatkan waktu kita dalam ketaatan, ibadah dan berdzikir pada Allah. Pangukan, Sleman, 6 Muharram 1430 H (di pagi hari yang penuh berkah) Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya Muhammad Abduh Tuasikal, ST

Sumber : https://rumaysho.com/124-sungguh-kita-telah-banyak-menyia-nyiakan-waktu.html

Posted in Uncategorized, waktu | Tagged | Leave a comment

Membazir umur

Islam Melarang Melakukan Pembaziran

Pembaziran diambil dari kalimah Bahasa Arab iaitu daripada asal kata “Bazzara, Yubazziru, Tabzira” yang bermaksud membazir atau boros. Manakala dari sudut istilah syarak pula membawa maksud sesuatu yang dikeluarkan pada jalan yang bukan hak (kebenaran).

Ibnu Mas’ud menjelaskan bahawa pembaziran adalah perbuatan menafkahkan (mengeluarkan) atau menggunakan harta pada jalan maksiat yakni tidak pada jalan yang diperintahkan oleh Allah dan tidak berlandaskan tuntutan Sunnah Rasulullah.

Manakala Ibnu Kathir pula mentakrifkan pembaziran sebagai perbuatan mensia-siakan nikmat Allah kepada perkara-perkara maksiat yang melanggar perintah Allah. Islam amat melarang umatnya melakukan pembaziran sehinggalah Allah menyifatkan orang-orang yang suka membazir itu sebagai saudara syaitan.

Firman Allah yang bermaksud: “Sesungguhnya orang-orang yang melakukan pembaziran-Mu adalah saudara-saudara syaitan, sedang syaitan itu pula adalah makhluk yang sangat kufur kepada Tuhannya.” (Surah al-Isra’:27)

Allah Taala menggariskan panduan kepada manusia dalam soal makan dan minum supaya tidak berlaku pembaziran.

Firman-Nya yang bermaksud: “…dan makanlah serta minumlah dan jangan pula kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surah al-A’raf:3 1)

Dalam masyarakat Islam kita, perbuatan membazir ini berlaku dalam pelbagai keadaan. Pembaziran berlaku bukan sahaja dari sudut makan minum, malah yang lebih parah lagi ialah dari sudut pembaziran masa dan umur. Jika pembaziran dari sudut makan minum tu dapat kita lihat dengan terbuangnya makanan dan minuman ke dalam tong sampah, tetapi pembaziran dari sudut masa dan umur (usia) pula seringkali tidak kira sendiri kerana tidak dapat dinilai dengan mata kasar. Namun perlu kita fahami bahawa segala nikmat termasuk nikmat masa, usia, harta, ilmu, tubuh badan dan sebagainya akan disoal dan dipertanggungjawabkan oleh Allah ke atas kita di akhirat kelak. Sabda

Rasulullah SAW yang bermaksud: “Tidak akan berganjak dua tapak kali manusia pada hari kiamat sehinggalak dia disoal tentang empat perkara. Mengenai umurnya kemanakah dihabiskan umurnya? Mengenai ilmunya, apakah yang sudah dilakukan dengan ilmunya? Mengenai hartanya, dari sumber manakah dia perolehi dan jalan manakah dia belanjakan? Dan tentang tubuh badannya, apakah yang telah dia lakukan?” (Hadis Hasan Sahih riwayat Tirmizi)

 

Orang yang mengerti nilai waktu tidak sanggup membiarkan waktunya habis dengan percuma, tetapi dipenuhi dengan amal-amal yang berguna kerana dia sedar waktu itu adalah umurnya. Berlalulah waktu tanpa sebarang pengisian yang baik bererti sia-sialah umurnya itu.

Pepatah Arab ada berkata: “Waktu itu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga juga.” Pembaziran masa sering berlaku jika kita tidak bijak menguruskannya. Terdapat segelintir di kalangan masyarakat kita yang suka menghabiskan masa dengan sia-sia. Bagi yang bekerja, mereka kadang-kadang mencuaikan masa dan sengaja melengahkan tugas atau kerja yang diberikan kepadanya. Tidak merancang tugasan, agihan tugas yang tidak sistematik, menyerahkan tugas kepada orang yang bukan ahlinya dan sikap pekerja sendiri yang tidak bermotivasi serta tidak mementingkan nilai masa adalah antara faktor yang menyumbang ke arah pembaziran masa.

credit to : http://fazakkeer.blogspot.my/2010/03/islam-melarang-melakukan-pembaziran.html

Posted in Uncategorized, waktu | Tagged | Leave a comment

bicara kesedihan

[DOA] Tatkala Mengalami Kesedihan

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Yunus, 10 : 64-65]

Doa dan Adab Tatkala Mengalami Kesedihan yang Mendalam
Kesedihan biasanya timbul karena beberapa faktor :
1. Kurangnya iman dan tawakkal kepada Allah
2. Usaha yang tidak atau belum berhasil
3. Kehilangan sesuatu yang amat dicintainya
4. Cita-cita yang tidak kesampaian

5. Banyaknya hutang yang sulit dibayar
6. Banyaknya tanggungan keluarga yang amat membebani dirinya
7. Terbelenggu orang lain
8. Ketinggalan dalam beramal saleh
9. Kesempatan yang telah disia-siakan
10. Merasa jauh dari Allah, dll.

Bagi orang beriman yang tawakkal, kesedihan tidak boleh berkelanjutan. Karena orang beriman yakin bahwa segala apa yang dimiliki manusia pada hakekatnya hanya titipan sementara dari Allah, yang suatu saat pasti akan dicabut kembali.
Ketika kita mengalami kesedihan yang mendalam dan berkepanjangan, Nabi SAW menganjurkan untuk membaca doa-doa di bawah ini :

Jika kita merasa susah dan sedih, Nabi menganjurkan membaca doa:


لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Laa ilaha ilallaahul ’azhiimul haliimu laa ilaaha ilallahu rabuul ’arsyil ’azhiim, laa ilaaha ilallaahu rabbussamaa waati wa rabbul ardhi wa rabbal arsyil kariim

“Tiada tuhan melinkan Allah Yang Maha Besar lagi Maha penyantun. Tiada tuhan melainkan Allah Pengatur ‘Arsy Besar. Tiada tuhan melainkan Allah Pengatur langit, Pengatur bumi dan Pengatur ‘Arasy mulia.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Jika kita sedang menghadapi urusan penting, Nabi menganjurkan untuk membaca


يا حي يا قيـوم برحمتك أستغيث

Yaa hayyu yaa qayyuum. Birahmatika Astaghist

“Ya Allah yang Maha Hidup, Ya Allah yang Maha Mengatur. Kumohon pertolongan dengan rahmat-Mu” (H.R. Tirmidzi)


لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaha illa anta. Subhanaka innii kuntum minazhaalimiin

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”(Q.S.Al-Anbiya : 87)


اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك , أو أنزلته في كتابك, أو علمته أحدا من حلقك, أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرأن ربيع قلبي ونور صدري وجلاء حزني وذهب همي

“Ya Allah, aku ini adalah hamba-Mu, putera dari hamba-Mu, selanjutnya putera dari umat-Mu. Ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, menerima segala putusan-Mu, dan memandang adil apa juga hukum-Mu. Aku mohon denganasma apa juga yang Engkau sebutkan terhadap diri-Mu, atau Engkau turunkan pada kitab-Mu, atau pernah Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau Engkau simpan dalam perbendaharaan ghaib dari ilmu-Mu, agar Al-quran itu Engkau jadikan kembang hatiku, cahaya dadaku, pelenyap duka dan penghilang susahku.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Adab Agar terhindar dari Kesedihan

1. Meluruskan kembali keyakinan bahwa Allah-lah pengatur segala ciptaan-Nya
2. Kita yakini bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya
3. Kita yakini bahwa segala ujian pasti untuk meningkatkan keimanan, menghapus dosa, meninggikan derajat, dan mendekatkan hamba-Nya ke sisi-Nya.
4. Kita yakini bahwa setiap orang sudah diqadar rezkinya, ada yang diluaskan dan ada yang disempitkan
5. Keluasan dan kesempitan rezki di dunia bukan ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah
6. Setiap jatah rezki seseorang pasti akan diberikan oleh Allah sebelum orang itu dicabut nyawanya, oleh karena itu tidak boleh berikhtiar dengan terlalu memaksakan diri dan usaha yang tidak halal. Sabda Nabi SAW :


إن روح القدوس نفث في روعي أنه لن تموت نفس حتى تستكمل رزقها و أجلها
فاتقوا الله و أجملوا فى الطلب

“Sesungguhnya malaikat Jibril berbisik dalam hatiku, bahwa seseorang tidak akan mati sehingga ia menyelesaikan (jatah) rezki dan ajalnya. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan baik-baiklah dalam berusaha mencarinya.” (H.R. Ibnu Hibban)

7. Bagi orang beriman, ketenteraman hati hanya ada pada dzikir kepada Allah. Maka tiada yang dicari selain mendekatkan diri kepada Allah
8. Bagi orang beriman, menderita dalam ketaatan adalah sebuah kenikmatan hidup.
9. Mendawamkan shalat malam, shalat hajat dan shaum sunnat
10. Mendawamkan doa-doa di atas setiap saat, terutama ba’da shalat fardhu, shalat tahajjud dan shalat hajat, sebagaimana janji Allah melalui Rasul-Nya, Allah akan menghilangkan kesedihan dan menyelesaikan segala urusan.
11. Jika kesedihan itu karena hutang-hutang yang susah terbayarkan, maka Nabi mengajarkan doa berikut:


اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

“Ya Allah, cukupilah kebutuhanku dengan yang halal dengan menghindarkan yang haram, dan jadikanlah daku berkecukupan demi kemurahan-Mu daripada selain-Mu” (H.R. Tirmidzy)


اللهم إني أعوذبك من الهم والحزن, و أعوذبك من العجز والكسل,
وأعوذبك من الجبن والبخل وأعوذبك من غلبة الدين وقهر الرجال

Allahumma inni a’uudzubika minal hammi wal hazan, wa a’uudzubika minal ‘ajiz wal kasali, wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli wa a’uudzubika min ghalabatid dayni wa qahrir rajali

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan duka, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, serta aku berlindung kepada-Mu dari hutang yang tak terbayar dan dari belenggu orang lain.” (H.R. Abu Umamah dan Abu Sa’id)

Links:
[Rahsia dibalik doa kesedihan]
http://buikid-online.blogs.friendster.com/buikid_online/2005/07/rahsia_dibalik_.html

  • Rasulullah SAW. telah mengajar umatnya supaya berdoa dan memohon kepada Allah apabila mereka sedang ditimpa oleh kesedihan. Sesuatu kesedihan lazimnya adalah timbul setelah seseorang ditimpa suatu musibah.
  • Imam Ibnu Katsir menafsirkan surat At Taghaabun ayat 11 Barangsiapa yang ditimpa suatu musibah, lalu dia menyedari bahawa musibah tersebut adalah qadha dan qadar Allah, oleh itu dia dapat sabar menghadapinya dan reda menerimanya, niscaya Allah akan memberi hidayah (petunjuk) kepada hatinya dan mengganti apa yang luput itu dengan hidayah kepada hatinya serta keyakinan yang benar. Malahan terkadang gantian dari Allah itu lebih baik daripada apa yang luput. (Tafsir Al Quran Al ‘Azim 4/375).
  • Imam Ibnul Qayyim berkata: “Hendaknya kita menyedari bahawa musibah yang menimpa kita bukanlah untuk memusnahkan kita, sesungguhnya kehadiran musibah tersebut hanyalah untuk menguji sampai dimana kesabaran kita, dengan demikian barulah jelas apakah kita layak menjadi WALI ALLAH ataupun tidak”.
  • Allah berfirman dalam surah Fathi Maksudnya: Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

[dOa untuk kesedihan yang mendalam]
http://asyarief.wordpress.com/2007/11/08/doa-untuk-kesedihan-yang-mendalam/

[dOa beRi kekuatan hadapi kesukaRan]
http://pkd.14.forumer.com/a/doa-beri-kekuatan-hadapi-kesukaran_post85.html

  • Doa adalah ibadat dan tanda pengabdian diri kepada Allah kerana memohon kepada-Nya membuktikan pengiktirafan bahawa hanya Allah yang Maha Berkuasa memenuhi segala hajat manusia. Amalan berdoa disuruh Allah dalam firman Surah Ghafir, ayat 60.
  • Doa juga boleh menjadi kekuatan seterusnya mendatangkan kemudahan kepada umat Islam untuk berhadapan dengan kesukaran seperti sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Doa itu senjata orang mukmin.” Kita digalakkan meminta apa saja kepada Allah dengan bahasa yang mudah, namun perlu menunjukkan kesungguhan melalui usaha mencari ayat doa yang sesuai memenuhi kehendak hajat yang ingin disampaikan kepada-Nya. Sebenarnya kualiti doa itu dipengaruhi kaedah doa, kesungguhan serta keikhlasan orang yang mengucapkannya.
  • Sebaik-baik doa disertakan dengan kesungguhan kita memastikan hajat dipinta dimakbulkan Allah. Doa akan dimustajabkan Allah apabila menepati waktunya, adabnya serta berpandukan kepada munajat nabi, rasul dan golongan solihin.

[selaRik dOa tentang deRita]
http://amuaz.wordpress.com/2007/11/14/selarik-doa-tentang-derita/

  • Nabi Ayyub memaknai sebuah penderitaan. Ia memandang rasa sabar kita seharusnya berbanding lurus dengan rasa syukur kita. Penderitaan yang kita terima, selayaknya diredam dengan betapa besarnya anugerah yang telah kita dapatkan.
  • Viktor Frankl, seorang pakar psikolog humanis, dalam buku Man’s Search For Meaning ¬yang dikarangnya, ia menuliskan, “Jangan biarkan penderitaan memicu munculnya gejala penyakit jiwa, tetapi biarkan ia memicu munculnya pencapaian seseorang.”
  • Pada doalah segala yang tidak mungkin bisa terjadi. Nabi saw. sendiri bersabda, “Takdir tidak ditolak kecuali oleh doa, dan tidak ada yang menambah umur manusia kecuali kebaikan yang dilakukan olehnya….”

[sebuah dOa ketika hampiR putus asa]
http://amuaz.wordpress.com/2007/11/13/halo-dunia/

  • Cerita Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan paus. Hanya ada satu pekerjaan yang dilakukannya: berzikir dan berdoa kepada Allah agar dilepaskan dari ujian berat itu. Dan Yunus pun berdoa, “La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazhalimin.” meski doa ini milik Yunus, tetapi doa ini juga milik seluruh kaum mukmin. Untuk itu, jika seorang mukmin dalam penderitaan dan kesulitan, kemudian berdoa dengan ini, maka Allah akan mengabulkanya.
  • Sebagai manusia yang imannya acapkali berfluktuasi tak menentu, penulis menghikmati dua poin penting:Pertama, Allah menguji tingkat kesabaran kita –yang seharusnya tak berbatas (soalnya sebagian kita sering komentar ‘kesabaran kan ada batasnya’)– hingga sebuah jawaban yang dijanjikan-Nya itu datang menghampiri kita. Kedua, penderitaan dan duka sejatinya bukan sebuah keputusan yang ditetapkan Allah. Ia bukan datang dari atas sana. Ia ada di dalam diri kita. Ia adalah realitas (kenyataan) subyektif kita.

[stRategi mengatasi kegundahan hati]
http://www.wahdah.or.id/wahdah/index.php?option=com_content&task=view&id=753&Itemid=62

  • Betapa pentingnya posisi hati dalam tubuh manusia, tidak hanya sekedar daging tetapi juga penentu aqidah, penentu budi pekerti dan penentu keputusan terbesar seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits Arbain Nawawiyah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda,yang artinya“Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” (H.R Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darani).
  • Kegundahan hati yang disebabkan oleh problematika hidup yang penuh dengan konflik, persoalan dan tantangan bisa menyebabkan hati kehilangan cahaya-Nya dan nurani kebaikan sehingga perlu segera ditemukan terapinya. Olehnya Allah yang Maha Ar-Rahman dan Ar-Rahim telah memberikan solusi-solusi kegundahan hati dengan obat mujarab yaitu Al-Quran Karim.
  • Kenapa Aku Diuji? [QS. Al-Ankabut: 2-3], Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang Aku Idam-Idamkan? [QS. Al-Baqarah ayat 216], Kenapa Ujian Seberat Ini? [QS. Al-Baqarah ayat 286], Bagaimana Menyikapi Rasa Frustasi? [QS. Al-Imran ayat 139], Sungguh, Aku Tak Dapat Bertahan Lagi…!!!!! [QS. Yusuf ayat 87], Bagaimana Aku Harus Menghadapi Persoalan Hidup ? [QS. Al-Imran ayat 200], Apa Solusinya? [QS. Al-Baqarah ayat 45-46], Siapa Yang Menolong Dan Melindungiku? [QS. Ali Imran: 173], Kepada Siapa Aku Berharap? [QS. At-Taubah ayat 129], Apa Balasan Atau Hikmah Dari Semua Ini? [QS. At-Taubah ayat 111]

[nikmat…begitu banyak yang telah teRlewatkan tanpa mensyukuRinya]
http://eramuslim.com/atk/oim/43db6887.htm

  • Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan? Pertanyaan retoris ini membuat saya tertunduk malu tiap kali mendengarnya. Betapa tidak! saya sering kali iri dengan nikmat yang ada pada orang lain. Saya memang tidak pernah sampai dalam tahap merasa dengki dan menginginkan agar nikmat orang lain itu hilang. Naudzubillah min Dzalik.. Tapi rasa iri saya membawa saya menjadi orang yang kufur nikmat. Padahal Allah selalu baik kepada saya.

[dusta yang mana lagi… ? ]
http://hikmahislam.blogsome.com/2007/02/07/p7/

  • Dalam Surat ar-Rahman adalah surat ke 55, Allah menggunakan kata “dusta”; bukan kata “ingkari”, “tolak” dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya. Dusta berarti menyembunyikan kebenaran.

[tentang nikmat]
http://blog.unisa81.net/2006/09/27/45/

  • Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzzibaan. ”Dan nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang dapat engkau dustakan??”, Nikmat Sehat yaa Qowi, Nikmat waktu luang yaa Muhshi, Nikmat masa muda yaa Jalil, Nikmat keindahan yaa Badii’, Nikmat ilmu yaa Aliim, Nikmat rezeki yaa Ghani’, Nikmat mendengar yaa Samii’, Nikmat melihat yaa Bashir, Nikmat iman yaa Allah… ah, kami malu padaMu Allah..

[beRpRilaku baik melalui ucapan, peRbuatan dan segala bentuk al-ma’Ruf]
http://www.almanhaj.or.id/content/1007/slash/0

  • Diantara sarana untuk menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kegelisahan adalah : Berprilaku baik kepada orang lain melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma’ruf (kebajikan). Semua itu adalah kebaikan untuk diri dan tindak kebajikan untuk orang lain.
  • Suatu kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan menangkis keburukan. Dan bahwasanya orang mu’min yang hanya berharap pahala Allah akan dianugrahi olehNya pahala yang agung. Termasuk pahala agung itu adalah hilangnya kegundahan, kesedihan, keruwetan hati dan semacamnya.

[satu dOa ketika gelisah meRuyak]
http://amuaz.wordpress.com/2007/11/13/satu-doa-ketika-gelisah-meruyak/

  • Kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif
  • Bila seseorang melihat kejadian pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif.
  • Menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa.
  • Kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan Sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di lidahnya, di hatinya.

[DOA] mOhOn dimudahkan segala uRusan
http://orido.wordpress.com/2007/06/14/doa-mohon-dimudahkan-segala-urusan/

[memang, indah banget… dan itu untukmu.. ]
http://heningsept.blogspot.com/2007/05/memang-indah-banget-dan-itu-untukmu.html

hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang

credit to : https://sedekahdoa.wordpress.com/doa-tatkala-mengalami-kesedihan/

Posted in ujian | Tagged | Leave a comment

Bicara syukur

[DOA] Mohon Dijadikan Hamba Yang Bersyukur


رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“..Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilniy birahmatika fiy ‘ibadikashshaalihiin..”

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Q.S. An-Naml : 19)


رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“..Rabbi aw zi’niy an asykura ni’matakallatiy an’amta ‘alayya wa’alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlihliy fii dzurriyyatiy inniy tubtu ilayka wa inniy minal muslimiin..”

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf : 15)

Firman Allah SWT:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 152)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 172)

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran, 3 : 145)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim, 14 : 7)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nahl, 16: 18).

“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml, 27 : 40)

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al-Qashash, 28 : 73)

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabuut, 29 : 17)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. Luqman, 31 : 12)

Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

tiga puluh satu kali Allah SWT menyatakan hal ini dalam Al-Qur’an…

aRtikelteRkait:

Link:
[Allah menambahkan nikmatnya kepada ORang yang bersyukuR]
http://remaja4istiqomah.wordpress.com/bersyukur-kepada-allah/

  • Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah.
  • Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah.
  • Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah.
  • Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah.
  • Orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih banyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.
  • Mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit.
  • Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut.
  • Allah menyatakan bahwa Dia akan menguji manusia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyukur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam menghadapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang beriman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

[kedahsyatan bersyukuR]
http://www.amarullahfatimah.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=126

  • Salah satu Kedahsyatan kalimat syukur bisa kita lihat di hasil penelitian Dr. Masaru Emoto, seorang ilmuwan jepang, dimana ketika sebuah air di beri ucapan kalimat syukur, terima kasih, maka molekul airnya membentuk sebuah kristal-kristal yang indah dan mempesona..padahal tubuh manusia 75% terdiri dari air, Otak 74,5% air, Darah 82% air, Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Betapa dahsyatnya tubuh manusia ketika setiap detiknya, menitnya dan jamnya selalu dihiasi dengan kalimat syukur Alhamdulilah…?
  • Bersyukur merupakan salah satu kunci utama untuk sukses. J.R.Murphy, penulis buku Your Infinite power to be rich mengatakan: seluruh proses menuju kekayaan mental, material dan spiritual dapat diringkas dalam satu kata: Syukur!
  • Erbe Sentanu, penulis buku Quantum Ikhlas mengatakan: kalau anda ingin sukses, maka bersyukurlah lebih keras!
  • Ada satu lagi resep dari Rasulullah agar kita bisa bersyukur dengan nikmat yang Alloh berikan yaitu : Selalu melihat orang yang dibawah kita dan jangan melihat yang diatas kita, karena dengan meihat mereka yang taraf hidupnya dibawah kita, otomatis kita akan teringat dengan apa yang sudah kita miliki, sedangkan bila melihat yang taraf hidupnya diatas kita, maka kita akan selalu membayangkan apa yang belum kita miliki , walhasil kita akan hidup terus dalam angan-angan dan lamunan yang tidak jelas batas akhirnya, ingat mendingan kita makan singkong tapi beneran daripada makan roti tapi mimpi, betulkan?

[tiga caRa beRsyukuR]
http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=164

  • Bersyukur merupakan salah satu kewajiban setiap orang kepada Allah. Begitu wajibnya bersyukur, Nabi Muhammad yang jelas-jelas dijamin masuk surga, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, Nabi selalu menunaikan shalat tahajud, memohon maghfirah dan bermunajat kepada-Nya. Seusai shalat, Nabi berdoa kepada Allah hingga shalat Subuh.
  • Bersyukur atas nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah karena kemurahan-Nya. Dengan kata lain, bersyukur berarti mengingat Allah yang Mahakaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Penyantun.
  • Tiga cara bersyukur kepada Allah. Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kedua, bersyukur dengan ucapan. Ketiga, bersyukur dengan perbuatan.
  • Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan.

[menjadi pRibadi yang beRsyukuR]
http://dhika.cikul.or.id/2008/03/12/menjadi-pribadi-yang-bersyukur/

  • Bekerja yang dilakukan oleh nabi Daud tentunya bukan atas dasar tuntutan atau desakan kebutuhan hidup, karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya, namun ia memilih sesuatu yang utama sebagai perwujudan rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah swt.
  • Ibnul Qayyim merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.
  • Sehingga bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal shaleh seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi.
  • Az-Zamakhsyari memberikan penafsirannya atas petikan ayat, “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” bahwa ayat ini memerintahkan untuk senantiasa bekerja dan mengabdi kepada Allah swt dengan semangat motifasi mensyukuri atas segala karunia nikmat-Nya. Ayat ini juga menjadi argumentasi yang kuat bahwa ibadah hendaklah dijalankan dalam rangka mensyukuri Allah swt.
  • Pemahaman Rasulullah saw akan perintah bersyukur yang tersebut dalam ayat ini disampaikan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra dalam bentuk pesannya setiap selesai sholat, “Hai Muaz, sungguh aku sangat mencintaimu. Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri (segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
  • Ciri lain seorang hamba yang bersyukur secara korelatif dapat ditemukan dalam ayat setelahnya bahwa ia senantiasa memandang segala jenis nikmat yang terbentang di alam semesta ini sebagai bahan perenungan akan kekuasaan Allah swt yang tidak terhingga, sehingga hal ini akan menambah rasa syukurnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa.

[nikmat kaRena beRsyukuR]
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=33278

  • Lazimnya apabila mendapat nikmat berupa rezeki yang tidak diduga duga, lulus ujian, pangkat naik, dapat jabatan empuk, memenangkan tender, dan hal hal lain yang menggembirakan orang mengucapkan “Alhamdulillah” kemudian sujud syukur. Itu sudah bagus. Tapi agaknya masih belum umum dilakukan orang, aktualisasi dari rasa syukur itu, misalnya dengan melaksanakan sepotong ayat ” Dan terhadap nikmat Allah itu hendaknya engkau sebar luaskan” ( Ad Dhuha 11 ). Maknanya nikmat yang diperolehnya, ikut juga dirasakan oleh orang lain, berupa zakat atau infak, sedekah. Kemudian ibadah ritualnya menjadi lebih meningkat, misalnya dengan melaksanakan salat Dhuha, membaca Al-Quran dan salat tahajjut.
  • Kunci pembuka nikmat bahagia itu kilah K.H. Abdullah Gymnastiar, ialah bernama Syukur. Maknanya siapapun yang tidak tahu cara mensyukuri nikmat dengan benar, maka tipislah harapan dapat menikmati hidup ini dengan benar. Pantaslah kalau dai kondang muda, pemimpin salah satu majelis zikir di Depok Jakarta, Drs. H. m. Arifin Ilaham yang baru baru ini berkunjung ke pontianak berkata ” Hidup adalah sorga kalau orang mampu bersyukur.”.
  • Benarlah penegasan Rasulullah SAW., “Sedikit harta, tetapi mampu kamu syukuri lebih baik daripada banyak harta tetapi tidak mampu kamu syukuri” ( Al Hadis ). Dan sejak awal Tuhan telah berfirman ” Siapa yang bersyukur pasti kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azabKu sangat pedih” ( Ibrahim 7).

[amal shalih membantu mendatangkan kebeRkahan]

http://www.almanhaj.or.id/content/2415/slash/0

  • Keberkahan juga bisa diraih berkat beberapa amal shalih berikut: [1] Mensyukuri Segala Nikmat, [2] Membayar Zakat (Sedekah), [3] Bekerja Mencari Rizki Dengan Hati Qona’ah, Tidak Dipenuhi Ambisi dan Tidak Serakah, [4] Bertaubat Dari Segala Perbuatan Dosa, [5] Menyambung Tali Silaturahmi, [6] Mencari Rizki Dari Jalan Yang Halal, [7] Bekerja Saat Waktu Pagi.

[syukuR]
http://d1ah.com/syukur/

  • Keutamaan syukur disebutkan dalam hadis, seperti sabda Rasulullah SAW, yang artinya : orang yang makan dan bersyukur menyerupai orang berpuasa yang bersabar. Syukur wajib kita panjatkan kepada yang memberi hidup ini, yang mengatur segala urusan atas segala limpahan rahman dan rohimNya.
  • Syukur tidak hanya harus kita panjatkan setelah kita mendapatkan nikmat dan karuniaNya sewaktu doa-doa kita sudah terkabul. Menurut Erbe Sentanu dalam bukunya Quantum Ikhlas syukur wajib kita ucapkan pada saat kita memanjatkan doa permohonan kita kepada sang Ilahi. Jadi sebelum doa itu dikabulkan. Disitu dia mengatakan 3 syarat doa yang efektif (maksudnya: mudah dikabulkan) adalah : 1. MINTA : dengan niat yang jelas, 2. YAKIN : percaya yang diinginkan terkabul dan 3. TERIMA : bersyukur menerima terkabulnya doa kita.

[antaRa si kaya yang beRsyukuR dan si fakiR yang beRsabaR]
http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=143

  • Dan diantaranya adalah bahwa kaum fuqara’ akan masuk kedalam syurga mendahului kaum kaya setengah hari (sebelum mereka), setengah hari sebanding dengan 500 tahun (waktu di dunia). Dan terdapat riwayat dengan 40 kali musim gugur. Sehingga kaum kaya muslimin berangan-angan bahwa seandainya mereka dahulu termasuk kaum fuqara’. Adapun tentang masuknya kaum fuqara’ kedalam syurga, maka tidak serta merta hal tersebut menunjukkan berkurangnya derajat si kaya, bahkan bisa jadi si kaya yang belakangan masuk syurga, lebih tinggi derajatnya daripada si fakir yang mendahuluinya masuk syurga.
  • Keutamaan-keutamaan bersedekah telah diketahui besarnya dan manfaatnya tidak terhitung jumlahnya. Dan inilah diantara buah si kaya yang bersyukur”.

[maRi belajaR beRsyukuR]
http://www.hudzaifah.org/Article136.phtml

  • Begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Nikmat iman, sehat, penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dll) serta nikmat-nikmat lain yg tak terkira. Namun dengan sekian banyaknya nikmat yang Allah berikan sering kali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur. Na’udzubillahi min dzalik.
  • Syukur diartikan dengan memberi pujian kepada yg memberi nikmat dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita berupa ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya.
  • Kita harus berusaha menerapkan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktivitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturanNya. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Untuk itu, tidak ada salahnya bila kita mulai diri dan keluarga kita, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi balasan siksa karena kufur akan nikmatNnya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah“.

[isteRi haRus banyak beRsyukuR dan tidak banyak menuntut]
http://www.almanhaj.or.id/content/2319/slash/0

  • Setiap mukmin dan mukminah diperintahkan untuk bersyukur karena dengan bersyukur, Allah akan menambahkan rizki yang telah Dia berikan kepadanya.
  • Seorang isteri diperintahkan untuk bersyukur kepada suaminya yang telah memberikan nafkah lahir dan batin kepadanya. Karena dengan syukurnya isteri kepada suaminya dan tidak banyak menuntut, maka rumah tangga akan bahagia. Isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya dan banyak menuntut merupakan pertanda isteri tidak baik dan tidak merasa cukup dengan rizki yang Allah karuniakan kepadanya. Perintah syukur ini sangat ditekankan dalam Islam, bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengancam dengan masuk Neraka bagi para wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan pada hari Kiamat Allah Ta’ala pun tidak akan melihat seorang wanita yang banyak menuntut kepada suaminya dan tidak bersyukur kepadanya.
  • Sekali (saja) suami tidak berbuat baik kepada si isteri, maka dilupakan seluruh kebaikannya selama satu tahun. Itulah yang disebut kufur.

[syukuR, kegembiRaan, Rendah hati, kemuRahan dan kedeRmawanan]
http://www.almanhaj.or.id/content/2211/slash/0

  • Orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa segala kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah semata dan bahwa Allah-lah yang menolak segala hal yang dibenci dan penderitaan, lalu hal itu mendorongnya untuk mengesakan Allah dengan bersyukur. Jika datang kepadanya sesuatu yang disukainya, maka dia ber-syukur kepada Allah karenanya, karena Dia-lah Yang memberi nikmat dan karunia. Jika datang kepadanya sesuatu yang tidak disenanginya, dia bersyukur kepada Allah atas apa yang telah ditakdirkan kepadanya, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, memelihara adab, dan menempuh jalan ilmu. Sebab, mengenal Allah dan beradab kepada-Nya akan mendorong untuk bersyukur kepada Allah atas segala yang disenangi dan yang tidak disenangi, meskipun bersyukur atas hal-hal yang tidak disenangi itu lebih berat dan lebih sulit. Karena itu, kedudukan syukur lebih tinggi daripada ridha.
  • Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Kegembiraan adalah kenikmatan, kelezatan dan kesenangan hati yang paling tinggi, maka kegembiraan adalah kenikmatannya sedangkan kesedihan adalah adzabnya.
  • Gembira kepada sesuatu adalah melebihi ridha kepadanya, karena ridha adalah ketentraman, ketenangan, dan lapang dada, sedangkan kegembiraan adalah kelezatan, kesenangan, dan suka cita. Setiap orang yang gembira adalah orang yang ridha, tapi tidak semua orang yang ridha adalah orang yang bergembira. Karenanya, kegembiraan lawannya adalah kesedihan, sedangkan ridha lawannya adalah kebencian. Kesedihan menyakitkan orangnya, sedangkan kebencian tidak menyakitkannya, kecuali bila disertai kelemahan untuk membalas.
  • Jika manusia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla, maka kemuliaannya sempurna, nilainya tinggi, keutamaannya mencapai puncaknya, kewibawaannya tinggi di hati manusia, dan Allah menambahkan kemuliaan serta derajat besar kepadanya. Karena barangsiapa yang bertawadhu’ kepada Allah, maka Dia meninggikannya. Dan jika Allah telah meninggikan derajat seorang hamba, maka siapakah yang dapat merendahkannya? Sebaik-baik akhlak pemuda dan yang paling sempurna ialah ketawadhu’annya kepada manusia padahal derajatnya tinggi.
  • Orang yang beriman kepada qadar mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah-lah Yang memberi rizki dan menentukan penghidupan di antara para makhluk, sehingga masing-masing mendapatkan bagiannya. Tidaklah mati suatu jiwa pun sehingga sempurna rizki dan ajalnya, dan tidaklah seseorang menjadi fakir, kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla.

[caRa membuat kita mengeRti beRsyukuR]
http://baiturrahmanvni.wordpress.com/2007/11/30/cara-membuat-kita-mengerti-bersyukur/

  • Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah. Bu…, aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah.?

[beRsyukuR sepanjang waktu]

http://www.eramuslim.com/atk/oim/7b03002316-bersyukur-sepanjang-waktu.htm

  • Di tengah musibah yang menyedihkan tersebut pamanku masih bisa bersyukur. Ia bersyukur karena pasar tidak dibakar seperti banyak terjadi di beberapa pasar yang lain. Dengan tidak dibakar, beberapa barang yang masih bisa dijual, bisa diselamatkan. Tak terbayang jika pasar dibakar secara tiba-tiba, tentu kerugian akan berlipat karena barang dagangan yang ada akan lenyap menjadi abu.
  • Ada dua pelajaran yang kupetik dari kejadian yang menimpa pamanku tersebut. Pertama, bersyukur hendaknya dilakukan sepanjang waktu. Bersyukur di kala mendapat kenikmatan adalah hal biasa dan memang seharusnya demikian adanya. Tetapi bersyukur di kala mendapat musibah, adalah hal yang luar biasa. Hanya orang yang ridha terhadap qadha dan takdir Allah-lah yang bisa demikian. Kedua, syukur akan nampak jika hamba mampu membayangkan kondisi yang lebih buruk ‘seharusnya’ terjadi pada dirinya. Pamanku masih bisa bersyukur karena mampu membayangkan kondisi yang lebih buruk tersebut, yaitu seandainya kiosnya terbakar.

…Bersujud kepada Allah, Bersyukur sepanjang waktu, Setiap napasmu seluruh hidupmu, Semoga diberkahi Allah… (Opick)

Fabiayyi aalaa rabbikumaa tukadzdzibaan?…

https://sedekahdoa.wordpress.com/doa-mohon-dijadikan-hamba-yang-bersyukur/

Posted in syukur, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

setiap amal butuh betulkan niat…

Niat Ikhlas Kerana Allah

Bayangkan berapa banyak pahala seorang guru boleh dapat hanya dari 1 ilmu?

Seorang guru

                                                        o
                                                       /T\
                                                       ./\.
                                   Mengajar 100 anak murid
                                   o              o
                                  /T\           /T\          x  100 anak murid
                                  ./\.            ./\.
           Anak murid peringkat ke 2 mengajar x 100 dibawahnya
                                 o         o          o
                                /T\      /T\       /T\          x   10,000
                                ./\.       ./\.       ./\.
            Anak murid peringkat ke 3 mengajar x 100 dibawahnya
                           o           o            o         o
                          /T\        /T\         /T\       /T\         x 1 Juta
                          ./\.          /\.         ./\.        ./\.
           Anak murid perignkat ke 3 mengajar x 100 dibawahnya
            o           o         o              o             o
           /T\        /T\       /T\           /T\          /T\          x 10 juta
           ./\.         ./\.       ./\.           ./\.           ./\.
Bayangkan berapa banyak pahala seorang guru boleh dapat hanya dari 1 ilmu?
Digandakan lagi dengan berapa banyak pula ilmu yang telah diturunkannya
kepada anak muridnya?
                    Tetepi bagaiamana jika bila bertemu Allah,
                             Allah kata jumlah ialah kosong
                                =  0
                        Kita bertanya “Kenapa Ya Allah?”
                       Allah menjawab
                      “Kamu tidak berniat keranaku”
                       Betulkan niat ketika memulakan tugas
                       “Aku buat keranamu Ya Allah,
                       mencari rehdamu Ya Allah,
                      Harap amalan ini akan buat aku makin dekat denganmu Ya Allah”
Adakah niat kerana Allah untuk Solat, Puasa dan Zakat Sahaja?
Adakah kita akan berbuka jika lupa niat puasa?
Tidakkah kita risau semua aktiviti kita tertolak
seperti puasa yang lupa diniatkan kerana Allah?

……………………………………………

Amalan jadi adat atau ibadat bergantung kepada niat

Pelajar-pelajar sedang belajar di dalam kelas,
niat setiap pelajar tidak sama
(ada kerana Allah, ada kerana dipaksa ibu bapa)
maka pahalanya tidak sama bagi setiap pelajar.

Begitu juga setiap amalan kita, mengajar, bekerja,
memasak, menderma, tidur, makan, memakai pakaian,
bayar yuran anak, membantu orang, beriadah dan lain-lain

……………………………………………….

Amirul Mu’minin Abi Hafsh Umar bin Khathtab berkata,
Saya mendengar Baginda Rasulullah saw bersabda:
Sesungguhnya sesuatu perbuatan itu tergantung kepada niatnya
Menurut laman web Jakim hadis ini dari
(riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Sesiapa yang mempelajari sesuatu ilmu yang sepatutnya dituntut untuk mendapat keredhaan Allah, sedangkan dia hanya menuntutnya untuk mendapat harta dunia, dia tidak akan mencium bau syurga pada hari kiamat (HR Imam Ahmad)

Atau kita mengharapkan anak kita
akan menjaga kita setelah mereka
dewasa, adakah itu ikhlas?

Jika kita mendidik mereka menjadi anak soleh
kerana Allah, pastinya anak soleh itu tidak
akan lari dari tenggungjawab mereka terhadap kita.

Ayat Al-Quran
“Sesiapa yang menggantung
harapan kepada manusia,
maka siap sedia untuk kecewa”

2 orang lelaki masuk tidur dalam masjid,

A tidur sahaja
(tidak dapat pahala)

B tidur dengan niat ikhtikaf
kerana Allah
(dapat pahala)

Imam baca sedap,
adakah niat kerana makmum yang ramai,

hadis niat ni ulamak pun boleh terkena

Sebab itu pengarang kitab, banyak menulis
hadis niat ini sebagai hadis pertama dalam kitab mereka
untuk menyedarkan diri mereka sendiri untuk membetulkan
niat agar segala amalan dan penulisan tidak menjadi
sia-sia tanpa ganjaran pahala atau keredhaan dari Allah

Sesiapa yang bekerja kerana hendak naik pangkat,
dapat gaji, kpi dll, hatinya tidak tenteram
(terutama selagi tak dapat apa yang dicita-citakan)
tetapi orang yang niat ikhlas kerana Allah,
telah selesai tugasnya, tutup fail,
tak perlu fikir apa-apa lagi.

……………………………………………………………………………………………………………………

Baginda Rasulullah saw berkata;

“sesiapa yang ada niat untuk melakukan kebaikan,
tetapi tidak ada keupayaan (terhalang / gagal)
melaksanakannya, dia tetap mendapat pahala niat.

Sebaliknya

Sesiapa berniat untuk melaksanakan kejahatan,
tetapi tidak melaksanakannya,
dia tidak diberi dosa”

…………………………………………………………………………………………………………………………

Kisah Seorang Pelajar

Pada suatu hari gurunya mengadakan pertandingan
menulis kisah hidup Baginda Rasulullah saw,
pemenang akan diberi hadiah.

Pelajar ini berusaha bersugguh-sungguh,
menghasilkan buku kisah hidup Baginda Rasulullah saw
yang hebat, ayat yang ringkas, mudah di fahami
dan akhirnya dia menang mendapat tempat pertama.

Gurunya menghantar buku tersebut untuk diterbitkan
kemudian dipasarkan di seluruh negara.

Setelah sekian lama,
pelajar ini menjadi guru,
mengajar di Masjidil Haram.

Pada suatu hari dia meminta semua anak-anak muridnya
membeli semua buku-buku yang ditulis untuk
memenangi pertandingan tersebut.

Semua buku-buku tersebut dimasukkan ke dalam
lubang dan dibakar
katanya ;
“buku ini ditulis oleh orang yang paling
sengsara hidupnya di dunia”

(Maksudnya; sengsara kerana buku tersebut
walaupun memberi faedah kepada orang lain,
tetapi tidak mendapat faedah oleh penulisnya,
kerana penulisnya menulis buku tersebut ketika itu,
niatnya untuk memenangi pertandingan, bukan
kerana Allah, maka dikuatirinya tiada ganjaran pahala,
berbeza orang yang belajar ilmu dari bukunya
dengan niat kerana Allah,
mereka mendapat ganjaran pahala sedangkan dia tidak
mendapat faedah darinya)

……………………………………………………………………………………………………………………..

Peranan niat adalah amat penting dalam kehidupan manusia, kerana niat menentukan segala galanya samaada jujur atau tidak jujurnya, sama ada ikhlas atau tidak iklas seseorang itu atau sebagainya, semuanya bergantung dengan niat.
Ulama’ kaum muslimin meletakkan niat itu sebagai rukun pertama dalam semua ibadat. Bahkan untuk membedakan antara ibadat dengan adat hanyalah dengan niat. Jika niatnya baik, baiklah amalannya dan begitulah seterusnya.
Sesuatu perbuatan adat jika diniatkan mengikut tuntunan dan keredaan Allah dan Rasulullah maka ia berubah menjadi ibadat dan mendapat pahala.
Penghijrahan manusia dari satu tempat kesatu tempat dari satu tugas kesuatu tugas. Dari satu hajat kesuatu hajat semuanya akan dilaksanakan mengikut apa yang diniatkan.

see more at:
http://www.islam.gov.my/e-hadith/setiap-amalan-bergantung-dengan-niat

———————————————————————————————–

Pertama hadir
LINTASAN HATI

kedua hadir
AZAM
tetapi masih jauh dari perlaksanaan

ketiga
NIAT
ketika mula melaksanakan

Wallahu A’lam Bishawab

God Knows best

Mohon beri panduan jika ada catatan tersilap, 

Terima Kasih

Posted in ikhlas, Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Betulkah anda ikhlas?

Inginkah Anda Menjadi Orang yang Ikhlas?

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau …

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Bahkan bukan hanya itu, ingatkah kita akan sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah orang-orang yang beramal kebaikan namun bukan karena Allah?. Ya, sebuah amal yang tidak dilakukan ikhlas karena Allah bukan hanya tidak dibalas apa-apa, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48)

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyatakan, “Amalan riya yang murni jarang timbul pada amal-amal wajib seorang mukmin seperti shalat dan puasa, namun terkadang riya muncul pada zakat, haji dan amal-amal lainnya yang tampak di mata manusia atau pada amalan yang memberikan manfaat bagi orang lain (semisal berdakwah, membantu orang lain dan lain sebagainya). Keikhlasan dalam amalan-amalan semacam ini sangatlah berat, amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, dan pelakunya berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan hukuman dari Allah.”

Bagaimana Agar Aku Ikhlas ?

Setan akan senantiasa menggoda dan merusak amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba. Seorang hamba akan terus berusaha untuk melawan iblis dan bala tentaranya hingga ia bertemu dengan Tuhannya kelak dalam keadaan iman dan mengikhlaskan seluruh amal perbuatannya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah

Banyak Berdoa

Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:

« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

Nabi kita sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”

Menyembunyikan Amal Kebaikan

Hal lain yang dapat mendorong seseorang agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikannya. Yakni dia menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain). Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain lebih diharapkan amal tersebut ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).

Apabila kita perhatikan hadits tersebut, kita dapatkan bahwa di antara sifat orang-orang yang akan Allah naungi kelak di hari kiamat adalah orang-orang yang melakukan kebaikan tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik shalat yang dilakukan oleh seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baik shalat adalah shalat yang dilakukan di rumah kecuali shalat wajib, karena hal ini lebih melatih dan mendorong seseorang untuk ikhlas. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadush Sholihin menyatakan, “di antara sebabnya adalah karena shalat (sunnah) yang dilakukan di rumah lebih jauh dari riya, karena sesungguhnya seseorang yang shalat (sunnah) di mesjid dilihat oleh manusia, dan terkadang di hatinya pun timbul riya, sedangkan orang yang shalat (sunnah) di rumahnya maka hal ini lebih dekat dengan keikhlasan.” Basyr bin Al Harits berkata, “Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu.”

Seseorang yang dia betul-betul jujur dalam keikhlasannya, ia mencintai untuk menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Maka dari itu wahai saudaraku, marilah kita berusaha untuk membiasakan diri menyembunyikan kebaikan-kebaikan kita, karena ketahuilah, hal tersebut lebih dekat dengan keikhlasan.

Memandang Rendah Amal Kebaikan

Memandang rendah amal kebaikan yang kita lakukan dapat mendorong kita agar amal perbuatan kita tersebut lebih ikhlas. Di antara bencana yang dialami seorang hamba adalah ketika ia merasa ridha dengan amal kebaikan yang dilakukan, di mana hal ini dapat menyeretnya ke dalam perbuatan ujub (berbangga diri) yang menyebabkan rusaknya keikhlasan. Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut, bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”

Takut Akan Tidak Diterimanya Amal

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut ( Tafsir Ibnu Katsir ).

Hal semakna juga telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Aisyah ketika beliau bertanya kepada Rasulullah tentang makna ayat di atas. Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah apakah yang dimaksud dengan ayat, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” adalah orang yang mencuri, berzina dan meminum khamr kemudian ia takut terhadap Allah?. Maka Rasulullah pun menjawab: Tidak wahai putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat itu adalah mereka yang shalat, puasa, bersedekah namun mereka takut tidak diterima oleh Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih )

Ya saudaraku, di antara hal yang dapat membantu kita untuk ikhlas adalah ketika kita takut akan tidak diterimanya amal kebaikan kita oleh Allah. Karena sesungguhnya keikhlasan itu tidak hanya ada ketika kita sedang mengerjakan amal kebaikan, namun keikhlasan harus ada baik sebelum maupun sesudah kita melakukan amal kebaikan. Apalah artinya apabila kita ikhlas ketika beramal, namun setelah itu kita merasa hebat dan bangga karena kita telah melakukan amal tersebut. Bukankah pahala dari amal kebaikan kita tersebut akan hilang dan sia-sia? Bukankah dengan demikian amal kebaikan kita malah tidak akan diterima oleh Allah? Tidakkah kita takut akan munculnya perasaan bangga setelah kita beramal sholeh yang menyebabkan tidak diterimanya amal kita tersebut? Dan pada kenyataannya hal ini sering terjadi dalam diri kita. Sungguh amat sangat merugikan hal yang demikian itu.

Tidak Terpengaruh Oleh Perkataan Manusia

Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi oleh manusia. Bahkan Rasulullah pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian ia dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)

Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun saudaraku, janganlah engkau jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab engkau beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas. Seorang mukmin yang ikhlas adalah seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan manusia ketika ia beramal saleh. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya dipuji karena beramal sholeh, maka tidaklah pujian tersebut kecuali hanya akan membuat ia semakin tawadhu (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian tersebut merupakan fitnah (ujian) baginya, sehingga ia pun berdoa kepada Allah untuk menyelamatkannya dari fitnah tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku, tidak ada pujian yang dapat bermanfaat bagimu maupun celaan yang dapat membahayakanmu kecuali apabila kesemuanya itu berasal dari Allah. Manakah yang akan kita pilih wahai saudaraku, dipuji manusia namun Allah mencela kita ataukah dicela manusia namun Allah memuji kita ?

Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka

Sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari bahwa orang-orang yang dia jadikan sebagai tujuan amalnya itu (baik karena ingin pujian maupun kedudukan yang tinggi di antara mereka), akan sama-sama dihisab oleh Allah, sama-sama akan berdiri di padang mahsyar dalam keadaan takut dan telanjang, sama-sama akan menunggu keputusan untuk dimasukkan ke dalam surga atau neraka, maka ia pasti tidak akan meniatkan amal perbuatan itu untuk mereka. Karena tidak satu pun dari mereka yang dapat menolong dia untuk masuk surga ataupun menyelamatkan dia dari neraka. Bahkan saudaraku, seandainya seluruh manusia mulai dari Nabi Adam sampai manusia terakhir berdiri di belakangmu, maka mereka tidak akan mampu untuk mendorongmu masuk ke dalam surga meskipun hanya satu langkah. Maka saudaraku, mengapa kita bersusah-payah dan bercapek-capek melakukan amalan hanya untuk mereka?

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam berkata: “Barang siapa yang berpuasa, shalat, berzikir kepada Allah, dan dia maksudkan dengan amalan-amalan tersebut untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut sama sekali, amalan-amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan ia berdosa”. Yaitu amalan-amalannya tersebut tidak bermanfaat baginya, lebih-lebih bagi orang lain.

Ingin Dicintai, Namun Dibenci

Saudaraku, sesungguhnya seseorang yang melakukan amalan karena ingin dipuji oleh manusia tidak akan mendapatkan pujian tersebut dari mereka. Bahkan sebaliknya, manusia akan mencelanya, mereka akan membencinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang memperlihat-lihatkan amalannya maka Allah akan menampakkan amalan-amalannya “ (HR. Muslim)

Akan tetapi, apabila seseorang melakukan amalan ikhlas karena Allah, maka Allah dan para makhluk-Nya akan mencintainya sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia akan menanamkan dalam hati-hati hamba-hamba-Nya yang saleh kecintaan terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal saleh (yaitu amalan-amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya ). (Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam sebuah hadits dinyatakan “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata: wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah kecintaan padanya di bumi. Dan sesungguhnya apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril dan berkata : wahai Jibril, sesungguhnya Aku membenci fulan, maka bencilah ia. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit: sesungguhnya Allah membenci fulan, maka benciilah ia. Maka penduduk langit pun membencnya. Kemudian ditanamkanlah kebencian padanya di bumi.” (HR. Bukhari Muslim)

Hasan Al Bashri berkata: “Ada seorang laki-laki yang berkata : ‘Demi Allah aku akan beribadah agar aku disebut-sebut karenanya’. Maka tidaklah ia dilihat kecuali ia sedang shalat, dia adalah orang yang paling pertama masuk mesjid dan yang paling terakhir keluar darinya. Ia pun melakukan hal tersebut sampai tujuh bulan lamanya. Namun, tidaklah ia melewati sekelompok orang kecuali mereka berkata: ‘lihatlah orang yang riya ini’. Dia pun menyadari hal ini dan berkata: tidaklah aku disebut-sebut kecuali hanya dengan kejelekan, ‘sungguh aku akan melakukan amalan hanya karena Allah’. Dia pun tidak menambah amalan kecuali amalan yang dulu ia kerjakan. Setelah itu, apabila ia melewati sekelompok orang mereka berkata: ‘semoga Allah merahmatinya sekarang’. Kemudian Hasan al bashri pun membaca ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Demikianlah pembahasan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri penulis dan kaum muslimin pada umumnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

(Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sehingga sempurnalah segala amal kebaikan)

***

Disusun oleh: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ustadz Ahmad Daniel Lc.
Artikel http://www.muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/267-inginkah-anda-menjadi-orang-yang-ikhlas.html

Posted in ikhlas, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Buatku rasa kerdil…

Bisa Jadi Ia Lebih Baik

 Selesai membahas acara peresmian masjid yang kami tempati, tepatnya pukul 21.00, ada seorang gadis duduk di depan masjid. Berdasarkan pengakuannya, ia diusir oleh orang tuanya karena diketahui bahwa dia sudah kehilangan mahkota berharganya, keperawanannya direnggut lelaki bejat ketika bekerja di sebuah kota. Aku hanya bisa mengelus dada. Betapa malangnya. Ia terlunta-lunta tanpa tahu arah tujuannya hendak ke mana. Hingga akhirnya ia duduk-duduk di depan masjid yang kami tempati. Berharap agar ada orang yang iba kepadanya dan mau memberikan tempat singgah barang semalam saja. Namun semuanya langsung pulang kecuali seorang bapak yang nantinya aku ajak berdiskusi.

Sembari melihat gadis malang itu, aku bertanya, “Pak, bagaimana itu pak?” maksud pertanyaanku adalah menanyakan malam itu di mana nanti gadis itu akan berteduh dan bermalam. Di dalam masjid tidak mungkin karena kami lelaki dan dia perempuan. Semua sudah kembali ke rumah masing-masing tanpa mau memperdulikannya.

Namun pertanyaanku tadi disalah fahami, sehingga dijawab oleh bapak tadi, “Mas, kita jangan merasa bahwa kita masuk jannah dan dia tidak. Bisa jadi sekarang kita shalat dan taat, dan dekat dengan Allah sedangkan dia sedang diuji dengan maksiat yang dia lakukan namun ia masuk jannah dan kita tidak !”

Aku tidak membantah jawabannya, sekalipun bukan itu maksud pertanyaanku. Namun aku tertarik dengan jawabannya. Kata-kata yang luar biasa bila kita mau sejenak merenunginya, dan menyadari bahwa kita belum ‘selamat’ seutuhnya. Bila demikian, maka kita jangan berbangga diri dan merasa lebih baik daripada orang lain, siapapun dia dan apapun status sosialnya. Sekalipun menurut mata manusia kita, ia banyak maksiatnya.

Apa yang disebutkan dalam salah satu sabda Nabi membenarkan jawaban bapak tadi. Sabda beliau, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh salah satu di antara kalian ada orang yang beramal dengan amalan penduduk jannah sehingga tidak ada jarak antara dia dengannya kecuali hanya sehasta, namun al-Kitab telah mencatatnya sebagai penduduk neraka sehingga ia melakukan amalan penduduk neraka (di penghujung hidupnya) lalu ia masuk neraka. Dan sungguh salah satu di antara kalian ada orang yang beramal dengan amalan penduduk neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dengannya kecuali hanya sehasta, namun al-Kitab telah mencatatnya sebagai penduduk jannah sehingga ia melakukan amalan penduduk jannah (di penghujung hidupnya) lalu ia masuk jannah.” (HR. Bukhari-Muslim).

Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari hadits ini. Setidaknya, hadits ini mengingatkan bahwa siapapun kita, belum ada jaminan masuk jannah Allah Ta’ala, dan sebejat apapun kita bukan berarti itu pertanda kita sudah dicap sebagai orang yang paling sengsara dengan memasuki neraka-Nya.  Tidak. Semuanya tidak ada jaminan. Orang yang sekarang taat bisa jadi mengakhiri hidupnya dengan bermaksiat sehingga ia bersua Allah dengan mendapat murka-Nya. Sebaliknya, ada orang yang terbiasa bermaksiat dan berlumur dosa namun pada akhirnya ia bertaobat dan bersua Allah dalam keadaan husnul khatimah. Sebuah kaedah agung pernah diberikan oleh Rasululloh, “Innamal A’malu bil Khawatim, hanyasanya amalan itu sesuai dengan amalan terakhirnya.” (HR. Bukhari). Dan kita tidak tahu. Sama sekali tidak tahu bagaimana ending perjalanan hidup kita. Kalau demikian adanya, pantaskah kita mendakwa bahwa kita lebih baik daripada orang yang menurut pandangan kita jauh dari Allah Ta’ala ? tidak sepantasnya.

Karena, bisa jadi orang yang sekarang kita remehkan, tidak kita pedulikan, atau bahkan kita kucilkan lantaran banyak kemaksiatan yang ia lakukan, kelak mendahului kita ke jannah Allah Ta’ala. Mereka mungkin tidak memiliki prestise yang patut dibanggakan di mata manusia, namun ternyata ia bisa mengakhiri hidupnya dengan kebaikan.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ ». فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Anas berkata, Rasululloh pernah bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Dia akan membuatnya beramal?” Ada shahabat yang bertanya, “Bagaimana cara Allah membuatnya beramal wahai Rasululloh?” beliau menjawab, “Allah memberikan taufik kepadanya untuk beramal shalih sebelum kematiannya.” (HR. Tirmidzi dan berkata, “Ini hadits hasan shahih.”).

Lihatlah shahabat Nabi, Ushairim Radhiyallahu ‘Anhu. Sepanjang hayatnya, ia belum pernah bersujud kepada Allah, namun ketika sudah berikrar masuk islam, ia berjihad dan syahid. Sehingga Rasululloh bersabda, “’Amila qalilan wa ujira katsiran, ia beramal sedikit tapi berpahala banyak.” Lihat pula kisah heroik para tukang sihir Fir’aun yang langsung beriman kepada Allah setelah melihat mu’jizat Nabi Musa. Hingga fir’aun menyiksa mereka dengan kaki dan tangan dipotong secara terbalik dan mereka disalib di pelepah korma. Namun itu semua tidak membuat iman mereka goyah. Mereka siap dengan konsekswensi iman yang baru sejenak mereka ikrarkan, dan jawaban indah mereka diabadikan Allah dalam firman-Nya, “Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.  Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)” (Thaha : 72-73). Mereka berhasil mengakhiri hidupnya dengan senyum menghadap Allah Ta’ala, padahal sebelumnya mereka adalah orang-orang kafir, namun Allah lebih mencintai mereka dan memberikan taufik kepada mereka di akhir hayatnya. Subhanallah. Indah.

Alasan yang lain, karena kadangkala kemaksiatan seorang hamba bisa membuat hatinya meronta dan menangis di hadapan Allah di kegelapan malam sehingga ia berubah menjadi pribadi yang shalih, sedangkan ketaatan seorang hamba bisa jadi malah membuat hatinya ternodai dengan ujub, merasa banyak beramal yang itu justru melenyapkan pahala amal-amal kebajikannya.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Abdurrahman dari Abu Hazim berkata, “Sesungguhnya seorang hamba bisa saja melakukan kebajikan yang dia senangi, namun ternyata Allah menjadikannya sebagai keburukan yang paling berbahaya bagi dirinya. Adakalanya seorang hamba melakukan keburukan yang ia benci, namun ternyata Allah menjadikan kebaikan paling bermanfaat yang tidak ada bandingannya bagi dirinya.  Sebabnya, ketika seorang hamba melakukan kebajikan itu, ia bersikap takabbur, menganggap dirinya memiliki keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Bisa jadi dengan sebab itu Allah menggugurkan kebajikannya itu bersamaan dengan banyaknya kebajikan lainnya. Sementara ketika si hamba melakukan kejahatan yang dibencinya itu, bisa jadi Allah menumbuhkan perasaan takut dalam dirinya, kemudian ia menghadap Allah dalam keadaaan rasa takut yang masih tertanam di dalam hatinya.” (Shifatush Shafwah : II/164).

Dus, adakah kita masih menganggap diri kita lebih mulia dari orang yang kita pandang sebelah mata karena kemaksiatannya, sedang kita tidak pernah tahu bagaimana ending hidup kita ? Wallahul Musta’an. (oleh : Ibnu Abdul bari el ‘Afifi).

https://ibnuabdilbari.wordpress.com/2010/10/25/bisa-jadi-ia-lebih-baik/

Posted in rendah hati/tawadhuk, Uncategorized | Tagged | Leave a comment