Nasab, Ku-nyah & Ibunda Rasulullah s.a.w

Nasab, Ku-nyah & Ibunda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

 PENDAHULUAN

 http://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5f/Bismillah_nastaliq.svg/550px-Bismillah_nastaliq.svg.png?resize=225%2C48

 “Dengan menyebut nama Allah,
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi mengatakan:

NASAB RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Beliau adalah Muhammad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Mannaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu-ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.[1]

Sampai di sini kesepakatan umat. Adapun setelahnya hingga Adam, maka sangat diperselisihkan.

Menurut para ulama, tidak ada sedikit pun menge­nai hal itu yang bisa dijadikan pegangan.

Qushay dengan mendhammahkan qaaf, Lu-ay de­ngan hamzah atau tanpa hamzah, dan Ilyas dengan hamzah washal, ada yang mengatakan dengan hamzah qath’.

KUN-YAH[2] DAN NAMANYA

Kun-yah Nabi yang masyhur ialah Abul Qasim.[3]

Jibril memberikan kun-yah kepada Nabi dengan Abu Ibrahim.[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak nama[5],  yang dipilah secara tersendiri oleh Imam al-Hafizh Abul Qasim `Ali bin al-Hasan bin Hibatullah bin ‘Abdillah asy-Syafi’i ad-Dimasyqi, yang dikenal dengan Ibnu Asakir, pada satu bab dalam Taariikh Dimasq.[6] Di dalamnya, ia me­nyebutkan banyak nama yang sebagiannya disebutkan dalam ash-Shahihain dan sisanya di luar ash-Shahihain, di antaranya:

Muhammad, Ahmad, al-Haasyir, al-’Aaqib, al­-Muqaffi, al-Maahi, Khaatamun Nabiyyiin, Nabiyyur Rahmah, Nabiyyul Malhamah -dalam suatu riwayat: Nabiyyul Malahim-. Nabiyyut Taubah, al-Faatih, Thaahaa, Yaasiin dan’Abdullaah.[7]

Imam al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali al-Baihaqi mengatakan, “Sebagian Ulama menambahkan, Allah menyebut beliau dalam al-Qur-an dengan sebutan Rasul, Nabi, Ummiy (yang tidak mem­baca dan menulis), Syaahid (saksi), Mubasysyir (pemberi kabar gembira), Nadziir (pemberi peringatan), Daa’iyan illaahi  bi-idznihi wa Siraajan Muniiran (penyeru kepada agama Allah dengan seizin-Nya dan pelita yang mene­rangi), Ra-uuf (yang belas kasih), Rahiim (penyayang), Mudzakkir (yang mengingatkan), dan Allah menjadikan­nya sebagai rahmat, nikmat dan Haadi (petunjuk).”[8]

Dari Ibnu ‘Abbas, la berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Namaku dalam al-Qur-an adalah Muhammad, dalam Injil adalah Ahmad, dan dalam Taurat adalah Ahid. Aku disebut Ahid, karena aku menghalangi umatku dari api jahannam.”[9]

Saya katakan: Sebagian dari nama yang disebutkan adalah sifat (mereka menyebutnya sebagai nama adalah sebagai majaz).

Imam al-Hafizh al-Qadhi Abu Bakar al-`Arabi al­Maliki dalam kitabnya, al-Ahwadzi fii Syarh at-Tirmidzi[10], mengatakan, “Sebagian kaum sufi mengatakan, Allah memiliki seribu nama, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memiliki seribu nama.[11]

Ibnul ‘Arabi mengatakan, “Adapun nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla maka jumlah ini sangatlah sedikit. Adapun nama-nama Nabi, maka saya tidak menghitungnya, kecuali dari aspek riwayat yang jelas yang menyebutkan dengan shighat nama yang jelas, ternyata saya mendapati darinya ada 64 nama.” Kemudian, la menyebutkannya secara terperinci disertai penjelasan yang panjang lebar dan bagus. Kemudian, ia mengatakan, “Beliau pun me­miliki selain nama-nama ini.”

IBUNDANYA

Ibu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Aminah binti Wahab bin ‘Abdi Mannaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu-ay bin Ghalib.

Foot Note:

[1] Ini sudah cukup dengan apa yang disebutkan al-Bukhari da­lam Shahihnya. Lihat ash-Shahiih ma’al Fat-h (VII/162), dan lihat Zaadul Ma’aad (I/71) karya al-’Allamah Ibnul Qayyim. Demikian juga kajian al-Hafizh Ibnu Hajar mengenai tema ini dalam Fat-hul Baari (VI/538-539).

[2] Kun-yah adalah panggilan pengganti nama asli, biasanya de­ngan memakai istilah Abu Fulan atau Ummu Fulan, (yang ber­arti bapaknya si Fulan atau ibunya si Fulan, biasanya nama itu diambil dari nama anak yang paling besar].

[3] Al-Hafizh adz-Dzahabi mengatakan dalam Taariikhul Islam (hal. 33), “Diriwayatkan secara mutawatir bahwa kun-yah beliau ada­lah Abul Qasim.”

[4] Lihat, Tandziib Taariikh Dimasyq, karya Ibnu Asakir (I/278). Ia mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan ad-Darimi dan al-Baihaqi dari Anas, tetapi dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah. Adz­Dzahabi mengatakan, “Ia memiliki kelemahan.” Taariikhul Islaam (hal. 34). Saya katakan: Hadits ini juga diriwayatkan al-Hakim (II/604), dan di dalamnya pun terdapat Ibnu Luhai’ah.

[5] Al-Qashthalani mengatakan dalam al-Mawaahib al-Laduniyyah (II/11), “Banyak nama itu menunjukkan kemuliaan orang yang diberi nama.”

[6] (Hal. 12 – di buku rujukan ini), lihat juga Tandziibnya (I/274).

[7] Sebagian yang disebutkan itu adalah nama dan sebagiannya lagi adalah sifat. Semuanya sah berdasarkan hadits-hadits shahih atau hasan, selain al Faatih, Thaahaa dan Yaasiin, karena tidak ada ketetapan bahwa itu adalah termasuk nama Nabi. Adapun al-Faatih, maka adz-Dzahabi mengatakan dalam as-Siirah dari Taarikhul Islaam (hal. 33) bahwa ini diriwayatkan dengan sanad yang lemah dari Abu ath-Thufail. Sedangkan Thaahaa itu diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dan dinukil darinya oleh al-Kalbi, namun la adalah perawi matruk (yang tidak ditulis haditsnya). Bahkan, yang shahih dari Ibnu ‘Abbas bahwa mak­na Thaahaa adalah yaa rajul (hai laki-laki), pendapat ini dipilih oleh Imam Mufassirin, Ibnu Jarir ath-Thabari, sebagaimana dalam tafsirnya (XVI/136). Adapun Yaasiin dan juga Thaahaa, maka tidak shahih bahwa keduanya merupakan nama Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam tapi keduanya adalah nama Surat dari al-Qur-an. Keduanya sebagaimana Shaad, Nuun dan semisalnya.

[8] Lihat Dalaa-dun Nubuwwah (I/160).

[9] HR. Ibnu Adi, sebagaimana dalam Tandziib Taariikh Dimasyq 4/275), dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Asakir dalam Taariikh Dimasyq (hal. 24). Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin Basyar, dan ia adalah pendusta lagi matruk. Silakan periksa dalam, Mii­zaan al-I’tidaal karya adz-Dzahabi (I/184). Berdasarkan hal itu, maka hadits ini tidak boleh dijadikan sebagai sandaran dalam menetapkan nama Ahid. Adapun dua nama yang pertama: Muhammad dan Ahmad, maka keduanya sah berdasarkan nash al-Qur-an.

[10] (X/280-287).

[11] Pembatasan mereka terhadap Nama Allah bahwa jumlahnya seribu adalah bertentangan dengan hadits shahih yang menye­butkan, “Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang menjadi milik-Mu, yang dengannya Engkau menamakan diri­Mu, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau Engkau ajar­kan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau Engkau khususkan bagi din-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu…” Hadits ini diriwayat­kan Imam Ahmad (1/391, 452), Ibnu Hibban (2372), al-Hakim 4/509). Hadits ini menunjukkan bahwa Allah memiliki nama­-nama yang hanya Dia sendiri yang mengetahuinya. Adapun perkataan mereka bahwa Nabi memiliki seribu nama, maka jawabannya bahwa beliau memiliki semua nama yang bagus dan semua sifat yang mulia. Hanya saja apa yang dikatakan oleh kaum sufi itu tidak ada dalilnya, dan ini merupakan bentuk sikap berlebih-lebihan mereka terhadap Nabi dan mengangkat beliau melebihi kedudukan beliau, padahal Nabi telah memperingat­kan hal itu dengan keras.

Sumber: Buku “Ringkasan Kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”, Imam an Nawawi, Ta’liq & Takhrij: Khalid bin Abdurrahman bin Hamd Asy-Syayi, Pustaka Ibnu Umar, Cet.1

 

Artikel: www.kisahislam.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s